HAKIKATBISMILLAH HURUF PER HURUf. Dalam suatu hadits Nabi saw. Beliau bersabda, Setiap kandungan dalam seluruh kitab-kitab Allah diturunkan, semuanya ada di dalam Al Quran. Dan seluruh kandungan Al Quran ada di datam Al Fatihah. Dan semua yang ada dalam Al Fatihah ada di dalam Bismillah hirrahmaan nirrahiim.
BHakikat Manusia Menurut sudut pandang Islam. Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah SWT adalah paling sempurna dibandingkan dengan mahluk yang lainya, termasuk diantaranya Malaikat, Jin, Iblis, Binatang, dllnya. Tetapi kita sendiri sebagai manusia tidak tahu atau tidak kenal akan " diri " kita sendiri. Untuk itu marilah kita pelajari
Surat Al fatihah adalah surat dalam kitab Alquran yang paling banyak dihafal oleh umat Islam karena surah ini wajib dibaca di dalam salat. Salat tidak sah kecuali dengan membacanya. Diriwayatkan oleh Bukhari, 756 dan Muslim, 394 dari Ubadah bin Somit radhiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
Sebenarnyamengetahui hakikat diri itu fardhu 'ain, tegasnya wajib tiap-tiap manusia yang aqil baligh, karena sebenarnya ma'rifat kepada Allah SWT itu ditangguhkan hingga mengetahui hakikat dirinya, sabda Rasullulah SAW : Dan penempatan ayat ketujuh pada surat Al-fatihah itu, yaitu lafal pada Lathifatul Qolab atau Kullu Jasad (seluruh
Vay Tiền Nhanh Chỉ Cần Cmnd Nợ Xấu. Surah al-Fatihah is a special letter of 114 letters in the Qur'an. This privilege has placed it as a letter that was recited in a number of times and became part of the pillars of prayer. In the sunglasses of tasawauf, al-Fatihah which is believed by one verse, namely Iyyaka Na`budu wa Iyyaka Nasta`in is the key in the straightness of a servant's faith to only Allah SWT, and plead with Him. The application in Sufism is the closeness of a servant to Allah who is intimately intertwined, thus creating a deep sense of love. The love of a servant to Allah SWT, has placed himself in the ability of himself to answer various problems and solve problems in his life. The above study is a study that is rarely achieved and owned by the servants of Allah, so that the Fatihah does not color his life in facing problems and problems. Therefore, discussing the nature of surat al-Fatihah as a key in creating a servant's closeness in worshiping Allah Almighty to be able to face life's problems and be able to realize happiness in the world and in the hereafter. Happiness is achieved by requiring our Islamic through intact in worshiping God Almighty, as God Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Volume 4 No. 1, Juni 2019P ISSN 2442-594X E ISSN 2579-5708 At-Tibyan Volome 4 No. 1, Juni 2019HAKEKAT TAFSIR SURAT AL-FATIHAHPemahaman Hakikat Ibadah Kepada Allah Swt Dalam Menghadapi PersoalanKehidupanThe Prosperity Of Al-Fatihah Letters Understanding the Nature of Worship to GodAlmighty in Facing Life ProblemsSafria AndyDosen Tetap Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam al-Fatihah is a special letter of 114 letters in the Qur'an. This privilegehas placed it as a letter that was recited in a number of times and became partof the pillars of prayer. In the sunglasses of tasawauf, al-Fatihah which isbelieved by one verse, namelyIyyaka Na`budu wa Iyyaka Nasta`inis the key inthe straightness of a servant's faith to only Allah SWT, and plead with application in Sufism is the closeness of a servant to Allah who isintimately intertwined, thus creating a deep sense of love. The love of aservant to Allah SWT, has placed himself in the ability of himself to answervarious problems and solve problems in his life. The above study is a studythat is rarely achieved and owned by the servants of Allah, so that the Fatihahdoes not color his life in facing problems and problems. Therefore, discussingthe nature of surat al-Fatihah as a key in creating a servant's closeness inworshiping Allah Almighty to be able to face life's problems and be able torealize happiness in the world and in the hereafter. Happiness is achieved byrequiring our Islamic through intact in worshiping God Almighty, as Al-Fatiha, Nature, Worship, World Happiness and the al-Fatihah merupakan surat yang istimewa dari 114 surat dalamAlquran. Keistimewaan tersebut telah menempatkannya sebagai surat yangdibacakan dalam berulanag-ulang dan menjadi bagian dari rukun kacamata tasawauf, al-Fatihah yang diimami oleh satu ayat, yaituIyyaka Na`budu wa Iyyaka Nasta`inmerupakan kunci dalam kelurusankeimanan seorang hamba untuk hanya menuhankan Allah Swt., dan memohonkepada-Nya. Permohonan dalam tasawuf adalah kedekatan seorang hamba Hakekat Tafsir Surat Al-Fatihah... – Safria Andy 79Jurnal At-Tibyan Volume 4 No. 1, Juni 2019kepada Allah Swt yang terjalin dengan erat, sehingga menciptakan rasa cintayang seorang hamba kepada Allah Swt., telahmenempatkan dirinya kepada kemampuan diri dalam menjawab berbagaipersoalan dan menyelesaikan permasalahan hidupnya. Kajian di atas yangmerupakan kajian yang jarang dicapai dan dimiliki oleh para hamba AllahSwt., sehingga al-Fatihah tersebut tidak mewarnai kehidupannya dalammenghadapai persoalan dan permasalahan. Oleh karena itu, melakukanpembahasan kajian hakekat surat al-Fatihah sebagai kunci dalam menciptakankedekatan diri seorang hamba dalam beribadah kepada Allah Swt untu mampumenghadapi persoalan kehidupan dan akan mampu mewujudkan kebahagiaandi dunia dan di tercapai dengan mengutuhkan keislamankita melalui penerpan secara utuh dalam menuhankan Allah Swt., Kunci Al-Fatihah, Hakekat, Ibadah, Kebahagiaan Dunia dan seorang hamba dalam melaksanakan wujud peribadatannya selalumemiliki kebimbangan dalam menerima hakikat dari ibadah yang dilakukannya,sehingga ibadahnya belum mampu menjawab segala persoalan ibadah tersebut telah memberikan kedamaian ibadah tersebut telah memberikan kemudahan di dalammenghadapi segala persoalan dan permasalahan dalam kehidupannya. Oleh karena itu,tulisan ini akan mencoba menelusuri jawaban dari pertanyaan di atas melalui kupasankajian surat al-Fatihah yang dikaji dari ibadah sejatinya adalah tujuan dari ibadah yang dikerjakannya, yaitumenjadikan Allah sebagai satu-satunya sosok yang dituhankan dan sosok yang adalah salah satu surat dari 114 surat yang ada di dalamAlquran. Sebagian ulama dalam Tafsir Ibn Katsir mengungkapkan bahwa al-Fatihahmerupakan surat yang memiliki kandungan makna yang mampu membimbing hambaAllah Swt., untuk menemui predikat dirinya sebagai hamba sejati dari Allah Swt., yangMahasuci. Yahya bin Abi Katsir1menamainya denganal-Kafiyahyang mencukupiberdasarakan keterangan dalam beberapa haditsmursalyang menyatakan, “UmmulQur’ansebagai pengganti dari selain nama-nama al-Fatihah. Selain nama-nama al-Fatihah itu, tidak ada lagi nama sebagai penggantinya.”Oleh karena itu, dari pernyataan dua alinea di atas memberikan inspirasi kepadapenulis untuk membahas, Pandangan Ahli Tafsir tentang pengertian Surat al-Fatihah,Hakekat Keutamaannya, Tafsir Surat al-Fatihah, dan Analisa Isi kandungan al-Fatihahsebagai Kunci Seorang Hamba dalam Menghadapi Persoalan Kehidupan dengankedekatan diri Kepada Allah Swt; Kemudahan dalam Mencapai Kedamaian Hidup1Muhammad Nasib ar-Rifa’i,Ringkasan Tafsir IBNU KATSIR Surah al-Fatihah- an-Nisaa, Jilid1, terj. Syihabuddin, Jakarta Gema Insani, 2012, Cet. Pertama, h. 44. 80 Hakekat Tafsir Surat Al-Fatihah..... – Safria AndyJurnal At-Tibyan Volume 4 No. 1, Juni 2019dengan Kemudahan dalam Menghadapi Berbagai Persoalan dan Permasalahan. Semoganiat dan tujuan penulisan tulisan ini diberkati Allah Swt. Ahli Tafsir tentangPengertian Surat al-FatihahSurat al-Fatihah adalah surat pertama yang tercantum di dalam Alquran. Al-Fatihah juga merupakan surat yang digunakan dalam setiap sholat baik wajib maupunsunnat. Secara umum juga dipahami bahwa al-Fatihah adalah induknya Alquran,dengan bahasa lain disebutUmmul Qur’an. Untuk menguatkan pemahaman tentangsurat al-Fatihah, dapat dilihat bagaimana pandangan ahli tafsir yaitu pandanganseorang yang ahli dalam menafsirkan surat dan ayat yang akan membahas tentangpengertian surat KatsirAl-Fatihah dinamaiFatihatul- Kitabkarena merupakan pembuka tulisan surah tersebut juga disertakan wajib dalam setiap sholat saatdimulainya. Al-Fatihah memiliki nama lain. Nama-namanya berupaUmmul-KitabdanUmmul-Qur’an, karena ia memiliki makna-makna kandungan Alquran yang berkiblatkepada al-Fatihah. Disebut juga nama lainnya dengan sebutanas-Sab`ul-MatsanidanAlquranul-`Azhim. Pernyataan tersebut telah dijelaskan di dalam hadits sahih yangdiriwayatkan dan disahihkan oleh Tirmizi dari Abu Hurairah, yang isinya,“Segala pujibagi Allah Tuhan Semesta Alam… adalah Ummul-Kitab, Sab`ul-Matsani, danAlquranul `Azhim.”2Nama lain dari al-Fatihah adalahal-Hamdudanas-Shalat, karena NabiMuhammad Saw., pernah menyatakan dalam sabdanya dari Allah Swt., yang isinya,“Shalat dibagi dua antara Aku dan Hamba-Ku. Apabila hamba-Ku mengatakan,Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam,’ maka Allah berfirman,’Hamba-Kumemuji-Ku.”Disebutas-Shalat, karena al-Fatihah merupakan bagian dari rukun juga disebut denganasy-Syifa, karena ia dapat menyembuhkan dari segalaracun. Hal tersebut telah disampaikan oleh ad-Darimi dari Abu Said berupa hadits yangdiriwayatkan secaramarfu`dan disebut juga dengan sebutanar-Ruqyah, tersebut diriwayatkan oleh Abu Said yang laindari tujuan pelaksanaan shalat adalah untuk memuji Allah Swt., sehingga hamba-Nyaterselamatkan dari godaan syaithan yang memberlakukan fasilitas dunia sebagaialatnya. Oleh karena itu, surat al-Fatihah menjadi bagian dari rukun shalat. Lebih jelaslagi kajian utama yang menjadi surat al-Fatihah merupakan bagian dari shalat tertera didalam ayat yang berbunyiIyyaka Na`budu wa Iyyaka Nasta`indan akan dijelaskandalam analisa pandangan tafsir tentang tafsir surat Muhammad Nasib ar-Rifa`I,Ringkasan.., h. 444Menurut hemat Penulis Hakekat Tafsir Surat Al-Fatihah... – Safria Andy 81Jurnal At-Tibyan Volume 4 No. 1, Juni 2019Al-Fatihah juga disebut denganAsasul-Qura’an, telah dijelaskan oleh asy-Sya`bidari Ibnu Abbas bahwa, “Dasar al-Fatihah adalahbismillahir-rahmanir-rahim5.”Yahyabin Abi Katsir menamainya denganal-Kafiyahyang mencukupi berdasarakanketerangan dalam beberapa hadits mursal yang menyatakan, “Ummul Qur’ansebagaipengganti dari selain nama-nama al-Fatihah. Selain nama-nama al-Fatihah tersebut,tidak ada lagi nama sebagai penggantinya.”6Kajian Yahya di atas insya Allah akandijelaskandibahasan berikutnya dalam analisa di antaranya, sebagai perwakilan maknadari seluruh surat di dalam Alquran yang diwakili oleh ayatIyyaka Na`budu wa IyyakaNasta`in. hal tersebut akan menjadi inti utama dari inti wujud beribadah seorang hambakepada Allah Al-AzharA-l-Fatihah artinya pembukaan. Surah ini pun dinamaiFathatul-Kitab,yangberarti pembukaan kitab, karena Alquran dimulai dengan surat al-Fatihah. Surattersebut mulai ditulis di dalamMushafAlquran walaupun surat tersebut bukan suratatau ayat pertama yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Namanyatelah masyhur dari masa diturunkan di suatu riwayat dari Abu Syaibah di dalamal-Mushanafdan Abu Nu`aimdan al-Baihaqi di dalamDalailun- Nubuwwah, dan hadits Amer bin Syurahbil bahwasetelah Rasulullah saw, mengeluhkan pengalamannya di dalam gua itu setelahmenerima wahyu pertama, kepada Khadijah kepada Waraqah. Maka, beliau ceritakankepadanya bahwa apabila dia telah memencil seorang diri, didengarnya suara daribelakangnya,“Ya, Muhammad, ya Muhammad, ya Muhammad! Mendengar suara itu,akupun lari.”Maka, berkatalah Waraqah, “ Jangan engkau berbuat begitu, tetapi jikaengkau dengar suara itu, tetap tenanglah engkau, sehingga dapat engkau dengar apalanjutan perkataannya itu.” Selanjutnya, Rasulullah saw, berkata,“Maka dating lagidia dan terdengar lagi suara itu, ya Muhammad!Katakanlah, Bismillahir-rahmanir-rahim, alhamdulillahi Rabbil Alamin.’Hingga sampai kepada waladh-dhaalin.”Demikian hadits penulis dari paparan kajian Hamka di atas menyatakan bahwa suratal-Fatihah di saat setelah menerima wahyu pertama merupakan surat yang juga telahturun di masa tersebut dan layak diletakkan di pembukaan Alquran alias berada disurat pertama dalam 114 surat JalalainSurat Al-Fatihah diturunkan di Mekkah; jumlah ayatnya ada tujuh berikutbasmallah, menurut pendapat yang menganggapnya sebagai salah satu ayat5Penulis menerjemahkannya bahwa setiap perbuatan seorang hamba harus didasari oleh karenaAllah Swt., yang memiliki Segala Kasih dan Segala Sayang-Nya, sehingga seluruh persoalan danpermasalahan yang dihadapi akan mudah dijawab dan Muhammad Nasib ar-Rifa`I,Ringkasan..., h. 447Lihat., Hamka,Tafsir Al-Azhar, Jilid. 1 Jakarta Gema Insani, 2015, cet. Pertama, h. Jilid. 1. h. 57-58 82 Hakekat Tafsir Surat Al-Fatihah..... – Safria AndyJurnal At-Tibyan Volume 4 No. 1, Juni 2019daripadanya, sedangkan ayat yang ketujuh menurutnya ialah mulai darisiratal lazinasampai dengan akhir surat. Jika basmalah dianggap bukan sebagai salah satu ayat darial-Fatihah, maka ayat ketujuhnya ialah mulai darigairil magdubisampai dengan anggapan di atas, maka sebelum ayat yang ketujuh diperkirakanadanya kalimatqulu, supaya ayat yang ketujuh tersebut maknanya sejalan dengan ayat-ayat sebelum ayatIyyaka Na`budu, yang kesemuanya dianggap sebagai doa dari hamba-hamba Allah di atas menjelaskan bahwa surat al-Fatihah diawali denganbasmallahyang menjadi bagian hitungan bilangan ayat dan ditutup dengan ayat ketujuhsirathal-ladzina..sampai akhir KeutamaannyaImam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata, “RasulullahSaw., menemui Ubai bin Ka`ab, namun ia sedang shalat. Rasul berkata,HaiUbai!’Maka Ubai melirik, namun tidak berkata,Hai Ubai.’Lalu Ubaimempercepat shalatnya, kemudian beranjak menemui Rasulullah saw, sambil berkata,Assalamu’alika, ya Rasulullah.’Rasul menjawab,Wa`alikassalam. Hai Ubai, mengapakamu tidak menjawab ketika kupanggil?’Ubai menjawab, Wahai Rasulullah,sesungguhnya aku sedang shalat.’Nabi bersabda,Apakah kamu tidak menemukandalam ayat yang diwahyukan Allah ta`ala kepadaku yang menyatakan.Penuhilah seruanAllah dan seruan Rasul apabila Rasul meneyeru kamu kepada sesuatu yang memberikehidupan kepadamu.” al-Anfal 24.12 Rasul bersabda,Sukakah kamu bila kuajarisebuah surah yang tidak diturunkan surat lain yang serupa dengannya di dalam Taurat,Injil, Zabur, dan al-Furqan?’Ubai menjawab, Saya suka, wahai Rasulullah.’Beliaubertanya,Ap yang kamu baca dalam shalat?’Ubai berkata, Maka aku membacakanUmmul-Qur’an kepada beliau.’Beliau bersabda,Demi yang jiwaku dalam genggaman-Nya, Allah tidak menurunkan surah yang setara dengan itu baik dalam Taurat, Injil,Zabur, maupun merupakan tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang.’”13Dari kajian di atas dapat dilihat bahwa keutamaan surat al-Fatihah adalah suratyang tidak tercantum dalam kitab Allah lain pun kecuali dalam Alquran. Surat yangdidasarkan yang dibacakan secaraberulang-ulang sab`ul-Matsani dan surat yang dijadikan sebagai salah satu rukundalam shalat yang dijelaskan sebelumnya surat yang dibacakan dengan yang paling menarik menurut penulis keistimewaan surat tersebut adalah suratyang dinamai dengan suratal-hamdu, yaitu surat yang terjadi saling memuji antarahamba Allah dengan Allah Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuti,Tafsir Jalalain, terj. BahrunAbu Bakar, Bandung Sinar Baru Algensindo, 2010, cet. Kedelapan, h. Imam Jalaluddin al-Mahalli………, Jilid. 1. h. Naseb ar-Rifa`I,Ringkasan………., Jilid. 1, h. 4412Muhammad Naseb……., h. 4413Muhammad Naseb……….., h. 44 Hakekat Tafsir Surat Al-Fatihah... – Safria Andy 83Jurnal At-Tibyan Volume 4 No. 1, Juni 2019Hamba Allah Swt., yang paling pandai memuji kepada Allah Swt., adalah NabiMuhammad Saw., dan terlihat dari nama beliau terdapat di dalam ayat yang terteradalam surat al-Fatihah, yaitu kataal-hamdu, yang berderivasi darihamida-yahmadu-muhammadun. Kajian tersebut penulis beranikan sebagai korelasi dari surat al-Anfalayat 24, yang berisi tentang memenuhi seruan Allah Swt., dan Rasulullah Saw., yangmenjadi alasan bagi Ubai bin Ka`ab untuk memutuskan shalatnya demi memenuhiseruan atau panggilan Rasulullah dan menggantikannya setelah pemenuhan keutamaan dan keistimewaan surat al-Fatihah, sehingga menjadi bagianyang utama untuk dipegang, diamalkan dan diimplementasikan setiap kegiatan padakehidupan seorang hamba. Kupasan tersebut akan dijelaskan di dalam analisa yangakan penulis lakukan di sub kajian berikutnya setelah pemaparan tafsir surat al-Fatihahsecara Surat al-Fatihah dan AnalisanyaDalam kajian tafsir surat al-Fatihah pada tulisan ini, akan bersinggungandengan kajian tasawuf. Kajian tasawuf di antaranya mengupas tentang hakikat, sebabkajian tersebut mengedepan akhirat daripada yang dilakukan adalahmembangun akhlak yang mulia. Kemuliaan akhlak seorang hamba dibangun olehkedekatannya kepada Allah Swt. Dengan melihat hakikat surat al-Fatihah, maka akanmembangun kedekatan diri seorang hamba kepada Allah Swt., dalam beribadah danmewujudkan akhlak yang mulia. Kandungan inti dalam surat al-Fatihah menurut hematpenulis adalah professionalitas15 dan propossionalitas16 dalam pemahaman kalimatIyyaka Na`budu wa Iyyaka Nasta`in, artinya seorang hamba hanya memahami bahwatidak ada tempat menyembah dan memohon pertolongan kecuali kepada Allah tersebut akan mengantarkan seorang hamba untuk berakhlak yang mulia, sebabfasilitas dunia tidak mampu menggoyahkan kedekatan dirinya dengan Allah lebih jelasnya, akan dipaparkan pada kupasan tentang per-ayat dari surat tersebut juga dapat diimplementasikan saat ini saat orang tua yang sudah sepuh terutamadan sakit- sakitan kita memanggil kita selagi shalat dan memutuskannya, untuk memenuhi panggilantersebut. Kajian ini terinspirasi dengan ijin Allah melalui pemahaman tafsir dari awal surat al-Isra ayat23; bahwa Allah telah menentukan kepada kita untuk tidak menyembah tuhan lain selain diri-Nya dankepada orang tua-mu , maka berbuat baiklah. Mengedepankan panggilannya karena Allah adalah bagiandari firman Allah dan pembelajaran dari hal yang menyebabkan mengedepankanpanggilan orang tua dari sholat adalah pertama, untuk tidak menyakiti perasaannya bila mereka tidaktahu bila kita sedang shalat. Kedua, untuk tidak mencelakakan mereka di kala mereka sudah sepuh, sakitdan susuah berjalan sehingga bila tidak kita dahului panggilan mereka akan terjadi sesuatu yang tidakkita inginkan dan telah melakukan keburukan bagi orang tua. Keburukan tersebut bertentangan denganperintah Allah dalam surat al-Isra ayat 23 dan sabda Rasulullah untuk melakukan kebaikan kepada Ibu,Ibu, Ibu dan Bapak kita. Wa Allahu A` pemhamannya tentang surat al-Fatihah dalam kehidupan pemahaman tersebut dalam pengimplementasian prilaku seorang hamba dalamkehidupan sehari-hari. 84 Hakekat Tafsir Surat Al-Fatihah..... – Safria AndyJurnal At-Tibyan Volume 4 No. 1, Juni 2019Bismillahir-rahmanir-rahimSyekh Muhammad Abduh menyatakan tentang surat al-Fatihah dalamtafsirnya, bahwa Alquran adalah imam dan ikutan kita, maka Alquran dimulai dengankalimat ata ayatbismillāhir-rahmānir-rahīm, pernyataan tersebut merupakan satupetunjuk bagi kita agar sekalian amalan kita dimulai dengan ayat tersebut,karenamenurut kebiasaan pada bangsa Arab, apabila hendak mengerjakan sesuatu pekerjaanyang diperintahkan oleh seorang raja ataupun pembesar, maka sewaktu melakukanpekerjaan, ia berkata “saya kerjakan pekerjaan ini dengan nama Raja atau pembesarPolan.” Jadi maknabismillāhir-rahmānir-rahīm“Saya mulai mengerjakan pekerjaan inidengan nama Allah”, ataupun “Saya mulai pekerjaan ini berlepas dari pengakuanbahwa ada dengan nama saya sendiri, hanya semata-mata dengan nama Allah, karenaadalah saya semata-mata meminta bantuan dan pertolongan dari pada-Nya danmengharap anugrah-Nya. Jika tidak karena itu, tentu saja tak kuasa mengerjakannyaataupun saya tidak kerjakan”.17Maknabismillāhir-rahmānir-rahīmyang ada pada al-Fatihah “Bahwasanyasekalian hukum-hukum, ayat-ayat dan lain-lain yang sudah ditetapkan pada Alquran,semuanya bagi Allah Swt., dan dari pada-Nya. Allah nama Tuhan yang disembahdengan sebesar-besarnya dan lafaz Allah, sudah khusus dalam bahasa Arab tertentupada Tuhan yang menjadikan langit dan bumi, Tuhan semesta ialahsifat Allah yang berarti menganugrahkan nikmat yang sifatAllah yang berarti menganugrahkan nikmat yang halus-halus. Menurut Abduh, antarakeduanya memiliki perbedaan yang amat besar. Menurut bahasa Arab, tiap-tiapkalimat sepertial-Rahmāndanal-Rahīmadalah menunjukkan sifat yang itu, maknaal-Rahmānadalah melimpahkan nikmat dan bahwa rahmat Allah itu adalah sifat yang tetap dan Allah merupakan nama untukRabb. Dikatakan bahwa Allah adalahal-Ismul-a’zhamnama yang paling agung, karena nama itu menyandang segala macamsifat. Sebagaimana firman Allah “huwallāhulladzīlāilāha illa hu ālimulghaibiwassyahādah huwarrahmānurrahīm.”19Dengan demikian, semua nama-nama yang baiktelah menjadi sifat-Nya. Dalam kitab shahih al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan dariAbu Hurairah ra., bahwa Rasulullah Saw., telah bersabda “inna lillāhi tis’atan watis’iināisman, mi`atan illa wāhidan man ahshoha dakhalaljannah.”Nama Allah merupakan nama yang tidak diberikan kepada siapa pun selain diri-Nya, yang Mahasuci dan Mahatinggi. Oleh karena itu, dalam bahasa Arab tidakdiketahui dari kata apa nama-Nya itu berasal. Di antara para ahli nahwu ada yangmenyatakan bahwa nama itu Allah adalahismun jamīd,yaitu nama yang tidakmempunyai kata dasar. Al-Khalil dan Sibawaih diriwayatkan bahwa “Alif” dan “lam”17Lihat, Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh Pentahqiq/Peneliti,Tafsir Ibn Katsir,Jild. I, terj.Bogor Pustaka Imam Asy-Syafi’I, 2004, cet. V,h. 42-4318 LihatIbid.,h. al-Hasyr 22. Hakekat Tafsir Surat Al-Fatihah... – Safria Andy 85Jurnal At-Tibyan Volume 4 No. 1, Juni 2019dalam kata “Allah” merupakan suatu yang lazim tak terpisahkan. Al-Khaththabimengatakan “Tidakkah anda menyadari bahwa anda dapat menyerukan “Ya Allah”dan tidak dapat menyerukan “Ya al-Rahmān”. Kalau kata “Allah” bukan kata yangmasih asli, maka tidak boleh memasukkan hurufnida’seruan terhadap “alif” dan“lam”. Ada juga yang berpendapat bahwa kata Allah memiliki kata dasar. Adapunnamaal-Rahmāndanal-Rahīm. Al-Qurthubi mengatakan, dalil yang menunjukkanbahwa nama ini Musytaq20 adalah hadis riwayat at-Tarmidzi, dari Abdurrahman binAuf ra., bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw., bersabda “Qālallāhu ta’āla anāal-Rahmān khalaqturrahīma wasyaqaqtu lahāisman min ismīfaman washolahawasholtuhu waman qatho’aha qatha’tuhu”“Allah Ta’ala berfirmanAku adalah al-Rahmān, Aku telah menciptakan rahim rahim-kerabat. Aku telah menjadikanuntuknya nama dari nama-Ku. Barangsipa yang menyambungnya, maka Aku akanmenyambungnya. Barangsiapa yang memutuskannya maka Aku pun Ali al-Farisi mengatakan “Al-Rahmānmerupakan nama yang bersifatumum meliputi segala macam bentuk rahmat, nama yang dikhususkan bagi AllahAzza wajallasemata. Sedangkanal-Rahīm, memberikan kasih sayang hanya kepadaorang-orang yang beriman.” Berkenaan dengan hal tersebut, Allah Swt., berfirman“wakāna bilmu`minīna rahīman”“Dan Dia- yang yang Mahapenyayang kepada orang-orang yang beriman.”22 Adapun Ibnu al-Mubarrak mengatakan “Al-Rahmanyaitu jikadimintai, maka Dia akan memberi, sedangkanal-Rahimyaitu, jika permohonan tidakdiajukan kepada-Nya, maka Dia akan murka. Sebagaimana dalam hadis riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Shalih al-Farisi al-Khuzi, dari Abu Hurairah ra.,,bahwa Rasulullah Saw., bersabda “man lam yas`alillaha yaghdhob alaihi”23Namaal-Rahmānhanya ditujukan kepada Allah semata dan tidak diberikankepada selain Allah berfirman dalam QS. Al-Isrā110. Olehkarena itu, Musailamah al-Kadzdzāb menyebut dirinya dengan sebutanRahmān al-Yamamah, maka Allah-pun memakaikannya pakaian kebohongan dan membongkarnya,sehingga ia tidak di panggil melainkan dengan sebutan Musailamah si Allah tidak pernah menyebutkan kata tersebut kecuali kepada firman Allah dalam QS. At-Taubah 128. Dapat disimpulkan bahwadi antara nama-nama Allah ada yang disebutkan untuk selain diri-Nya dan ada pulayang tidak disebutkan untuk selain diri-Nya, misalnya nama Allah,al-Rahman, al-Khaliq, al-Razzaq. Oleh karena itu, Ia memulai dengan nama Allah dan menyifati-Nyadenganal-Rahman, karenaal-Rahmanlebih khusus menempatkan Allah Swt dalam kehidupan seorang hamba di setiapaktivitas hidupnya dan memperoleh kasih sayang-Nya akan memberikan kemudahan-20Musytaq/isim kata benda yang terbentuk dari fi’ilnya kata kerjanya. Contoh minsyarungergaji berasal dari nasyara-yansyaru menggergaji21Lihat, Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh Pentahqiq/Peneliti,Tafsir Ibn Katsir,Jild. I, terj.Bogor Pustaka Imam Asy-Syafi’I, 2004, cet. V,h. al-Ahzab 4323Lihat,Ibid.,h. 22 86 Hakekat Tafsir Surat Al-Fatihah..... – Safria AndyJurnal At-Tibyan Volume 4 No. 1, Juni 2019kemudahan dalam menghadapi segala rintangan dan menempatkannya kepadapemahaman tentang arti kebenaran, yaitu bahwa semua milik Allah Swt., dan kembalikepada-Nya. Pemahaman kebenaran tersebut pada diri seorang hamba akanmelancarkan segala urusan yang dilakukannya dan memberikan keyakinan yang tinggiyang senantiasa didukung oleh Allah makna yang khusus bagi seorang hambadan tidak bisa untuk diwakilkan, artinya masing masing seorang hamba harusmenempatkan kalimat tersebut dalam dirinya secara khusus sehingga mampumemberikan nilai yang dapat mengarahkan mereka kepada jalan yang lurus dan hasilyang disebabkan ke-dalaman ikatan seorang hambadengan Allah Swt. Kedekatan tersebut hadir dari ikatan yang terjalin antara yang terjalin antara seorang hamba dengan Allah Swt., telah melahirkan sebuahkeyakinan dan keyakinan itu sendiri akan berkembang pesat saat memasukipemahamanIyyāka na`budūwaiiyyāka nasta`īnyang akan dibahas pada kajian di ayatbismillāhir-rahmānir-rahīmmampu mengarahkan seorang hambakepada kejelasan sikap dan perbuatan yang bernilai di dalam mengarungi segalaaktivitas kehidupan seorang hamba. Kalimat tersebut telah memberikan kejelasanbaginya di dalam melaksanakan tugas kesehariannya di dunia adalah untuk Allah tugas yang diniatkan hanya kepada-Nya, telah mengantarkan seoranghamba untuk siap menerima kenyataan yang ada dihadapannya baik yang manismaupun yang pahit. Kenyataan tersebut ditemani oleh keberadaan Allah Swt., sebagaiTuhannya yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang yang diberadakan oleh seoranghamba pada setiap kegiatannya tanpa ada yang lain selain hamba akan menyeleksi apa yang dilakukannya apakah memilikiketerkaitan dengan apa yang dianjurkan oleh Allah Swt. Apabila apa-apa yangdilakukannya memiliki keterkaitan maka didudukkannya dengan kecintaan seoranghamba kepada Allah Swt., dan apabila tidak memiliki keterkaitan maka ia akanberhenti atau tidak melakukannya. Adapun masalah menerima kenyataan setiap yangdilakukan oleh seorang hamba denganbismillāhir-rahmānir-rahīmadalah karena niatyang dituju dalam setiap pelaksanaan kegiatannya hanya kepada dan untuk Allah Swt.,sehingga hasil yang manis tetap dihadapi dengan pemujiaan kepada-Nya semata danyang pahit pun turut dikalahkan dengn pujian itu sendiri, sehingga tidak memberikandampak negative bagi seorang di atas yang akan dipahami oleh seorang hamba sebagai upaya perwujudankeyakinannya kepada Allah Swt., di dalam mengerjakan segala tersebut akan terlihat nyata saat seorang hamba menerimahasil dari pekerjaannya yang dilakukan denganbismillāhir-rahmānir-rahīm, sehinggakeluar kata pujian dari mulut seorang hamba yang ditujukan kepada Allah Swt. Katapujian tersebut menjadi hakikat dari kebenaran itu yang menjelaskan kepada praktekseorang hamba bahwa saat ia bahagia ia senantiasa bersyukur dan tidak sombong dandi saat derita ia tahu bersabar serta tidak berputus asa. Nilai tasawuf dalam kandungan Hakekat Tafsir Surat Al-Fatihah... – Safria Andy 87Jurnal At-Tibyan Volume 4 No. 1, Juni 2019bismillāhir-rahmānir-rahīmakan hadir dalam diri seorang hamba dari pemahamanmaknaalhamdulillāhi-rabbil-ālamīnyang dimiliki seorang hamba setelah melewatipemahaman kalimatbismillāhir-rahmanir-rahīmadalah suatu kalimat yang dapatmenghubungkan seorang hamba dengan Allah Swt., di dalam melakukan segala halmelalui niat yang hanya karena Allah Swt. Banyak perjalanan yang dikerjakan seoranghamba dan segala harapan tujuan yang diinginkan hanya bergantung hanya karenaAllah Swt. Niat tersebut akan memelihara langkah hamba dalam melakukan perkataandan perbuatan. Dengan niat tersebut, mampu memproteksi segala permasalahan yangmuncul disebabkan keyakinannnya dalam melakukan segala hal. Semuanya merupakanbukti akan cinta seorang hamba hanya kepada Allah Swt. Apapun, dan bagaimanapunbentuk permasalahan yang dihadapi seorang hamba, ia akan selalu menghadapinyadengan penuh pengorbanan. Cinta butuh pengorbanan, dan pengorbanan adalah rasanikmat dalam bercinta. Dengan nama Allah Swt., yang memiliki sifat Pengasih danPenyayang akan menghilangkan segala rasa yang menghambat seorang hamba di dalamberbuat. Rasa tersebut merupakan sesuatu yang dicita-citakan seorang hambasebagaimana seorang pekerja keras yang tidak memperdulikan kesusahannya karenagaji yang menjadi tujuan utamanya dan kenyataan tersebut sebagai bukti rasakenikmatannya dalam di antara para pekerja yang selalu berkata “Sayasiap untuk menerima berbagai tantangan demi kenikmatan diakhirnya.”Bismillāhir-rahmānir-rahīmadalah bagian utama seorang hamba dalammelangkahkan niatnya di dalam melakukan segala perbuatan. Niat tersebut akanmembuat segala perbuatannya terasa indah meskipun tidak indah dalam pandanganlahiriah. Niat tersebut juga menjadi kemudahan bagi seorang hamba dalammengerjakan sesuatu, yaitu perbuatan yang terlihat mudah dan susah dalam kacamatalahiriah akan terlihat sama dan mudah dan nikmat dalam mengerjakannya. Kajian diatas memberikan pemahaman bahwa terdapat nilai tasawuf dalam ayatbismillāhir-rahmānir-rahīm, yaitu niat yang lurus dan akan memperoleh tujuan yang puji dan syukur kepada Allah Swt., adalah bagian lanjutankenikmatan hamba tersebut di dalam memahami makna dari penyikapanbismillāhir-rahmānir-rahīm. Keberhasilannya dalam menghadapi segalapermasalahan dengan persenjataan hanya karena nama Allah Swt., dan sifat-Nyayang Pengasih24dan Penyayang25 dalam perlakuan seorang hamba dalam24Mahapemberi yang tidak ada henti dan tidak memandang siapapun yang meminta pasti akandberikan oleh Allah Swt. Sifat Ar-Rahmān Allah dapat menentukan pilihan-Nya terhadap seoranghamba bahwa mana yang berterima kasih walaupun tidak menyembah-Nya, namun sebagai pemberianjalan agar mereka akhirnya berpikir dan akhirnya untuk menyembah-Nya dan bagi yang menyembah-Nya mengakui kebesaran-Nya dan mana yang tidak sama sekali mengingat akan kebesaran-Nya dantidak berterimakasih kepada-Nya tetapi berterimakasih dan menyembah kepada selain terimakasih atas pemberian telah menempatkan seorang hamba untuk dan hanyamenyembah-Nya dan berterimakasih hanya kepada-Nya. Dengan rasa terimakasih seorang hamba maka 88 Hakekat Tafsir Surat Al-Fatihah..... – Safria AndyJurnal At-Tibyan Volume 4 No. 1, Juni 2019melakukan segala perbuatan akan menjadi mudah untuk dihadapinya. Telahterlihat lebih jelas bahwa Allah Swt., adalah Pemelihara semesta Jauhary mengatakan, “Pujian menurut ukuran ilmu orang yangmemuji”. Apakah orang yang memuji itu tahu betul akan sifat-sifat orang yangdipujinya barulah dia orang yang benar atas pujiannya. Kebalikannya, manakaladia memuji kepada seseorang, padahal kurang pengetahuannya terhadap orang itu,niscaya pujiannya itu lebih hampir pada karena itu TanthawiJauhari telah memberi konklusi dalam Tafsirnya “Orang Islam belum dapatmemuji Allah dengan sebenar-benarnya selama mereka belum mengetahuiperaturan-peraturan27Thabi’atNature dan sekalian keajaiban perbuatan Allah.”Iamelanjutkan perkataannya, “Manakala ummat Islam bermaksud hendak memujiAllah dengan sebenar-benarnya maka hendaklah lebih dahulu mereka mempelajarisekalian peraturan dan kehalusan kejadian makhluk. Sehingga tidak ada satu ilmuyang tidak dibaca dan dipahamkan barulah ketika itu mereka dapat memuji Allahdengan sebenar-benarnya pujian. Sebagaimana ummat-umat memuji-memujipemukanya, sesudah mereka tahu jasa dan keberanian pemuka-pemukanya ituyang mana mereka itu mendapat manfaat dari padanya.”28Abu Ja’far bin Jarir mengatakan “Alhamdulillāhberarti syukur kepadaAllah Swt., semata dan bukan kepada sesembahan selain-Nya, bukan juga kepadamakhluk yang telah diciptakan-Nya, atas segala nikmat yang telah Diaanugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang tidak terhingga jumlahnya, dan tidakada seorangpun selain Dia yang mengetahui jumlahnya. Berupa kemudahanberbagai sarana untuk mentaati-Nya dan anugerah kekuatan fisik agar dapatmenunaikan kewajiban-kewajiban-Nya. Selain itu, pemberian rizki kepada merekadi dunia, serta pelimpahan berbagai nikmat dalam kehidupan, yang sama sekalimereka tidak memiliki hak atas hal itu, juga sebagai peringatan dan seruan kepadamereka akan sebab-sebab yang dapat membawa kepada kelanggengan hidup diakan memperoleh kasihsayang Allah. Seorang hamba akan sadar bahwa segala pemberian datangnya dariAllah dan kepada-Nya seorang hamba agar menyembah dan berterimakasih atas pertolongan perlakuan Allah Swt baik itu cocok menurut hamba maupun tidak cocok menurut hambaadalah sesunguhnya perlakuan baik Allah buat hamba-Nya, karena tidak ada sesuatu pun yang Iaciptakan yang sia-sia buat hamba dan Ma Khalaqta hādza Bātilan subhānakafaqināadzābannār…al-Imran [3]191. Apapun yang tidak berkenan oleh hamba, semua itu disebabkankarena ketidak siapan dan ketidak mampuannya dalam menerima segala sesuatu itu. ﺎًﺌْﯿَﺷ اﻮُھَﺮْﻜَﺗ ْنَأ ﻰَﺴَﻋَوَو ُﻢَﻠْﻌَﯾ ُﱠَو ْﻢُﻜَﻟ ﱞﺮَﺷ َﻮُھَو ﺎًﺌْﯿَﺷ اﻮﱡﺒِﺤُﺗ ْنَأ ﻰَﺴَﻋَو ْﻢُﻜَﻟ ٌﺮْﯿَﺧ َﻮُھَو ةﺮﻘﺒﻟا] َنﻮُﻤَﻠْﻌَﺗ َﻻ ْﻢُﺘْﻧَأ216 ] ُهﻮُﺒَﺴْﺤَﺗ َﻻ ْﻢُﻜْﻨِﻣ ٌﺔَﺒْﺼُﻋ ِﻚْﻓِْﻹﺎِﺑ اوُءﺎَﺟ َﻦﯾِﺬﱠﻟا ﱠنِإَﺑ ْﻢُﻜَﻟ اﺮَﺷ ٌباَﺬَﻋ ُﮫَﻟ ْﻢُﮭْﻨِﻣ ُهَﺮْﺒِﻛ ﻰﱠﻟَﻮَﺗ يِﺬﱠﻟاَو ِﻢْﺛِْﻹا َﻦِﻣ َﺐَﺴَﺘْﻛا ﺎَﻣ ْﻢُﮭْﻨِﻣ ٍئِﺮْﻣا ِّﻞُﻜِﻟ ْﻢُﻜَﻟ ٌﺮْﯿَﺧ َﻮُھ ْﻞ رﻮﻨﻟا] ٌﻢﯿِﻈَﻋ11 ] ٌﺮْﯿَﺧ ُﮫَﻠَﻓ ِﺔَﻨَﺴَﺤْﻟﺎِﺑ َءﺎَﺟ ْﻦَﻣا اﻮُﻠِﻤَﻋ َﻦﯾِﺬﱠﻟا ىَﺰْﺠُﯾ َﻼَﻓ ِﺔَﺌِّﯿﱠﺴﻟﺎِﺑ َءﺎَﺟ ْﻦَﻣَو ﺎَﮭْﻨِﻣ ﺺ ﺼ ﻘﻟا] نﻮُﻠَﻤْﻌَﯾ اﻮُﻧﺎَﻛ ﺎَﻣ ﱠﻻِإ ِتﺎَﺌِّﯿﱠﺴﻟ84 ]27Yaitu hanya menuhankan Allah Swt tidak menuhankan yang ini merupakanpesan utama yang disampaikan oleh Allah Swt kepada setiap Nabi Rasul agar memudahkan para hambadi dalam mengarungi bahtera kehidupannya di dunia. Peraturan ini terlihat jelas di beberapa FirmanAllah Swt di antara dalam surat al-Nahl A. Halim Hasan Daulay dkk,Tafsir Alquran...,h. 13-14 Hakekat Tafsir Surat Al-Fatihah... – Safria Andy 89Jurnal At-Tibyan Volume 4 No. 1, Juni 2019surga tempat segala kenikmatan abadi. Hanya bagi Allah Swt., segala puji, baik diawal maupun di yang hanya ditujukan seorang hamba kepada Allah Swt.,telah memberikan semangat di dalam melaksanakan setiap aktivitasnya danmemperoleh kebahagiaan karena senantiasa dihargai oleh Allah Swt.,akan setiapkegiatan tersebut. Kedua hal itu yang akan mengarahkan seorang hamba untukmemasuki jiwa yang ikhlas di dalam berbuat. Pemikiran dan pemahaman tersebuttelah tertuang di dalam akal seorang hamba atas kelayakan Allah untuk dipuji dandipuja karena hanya Dia yang memiliki pujian tertinggi dari pada apa-apa yangtelah diberikan seorang hamba akan pujian yang ada kepada selain Allah telah diterangkanRabbidengan maknatarbiyahmemelihara.TarbiyahAllah Swt diri pada manusia ada terbagi kejadiannya, agar sempurna tarbiyah syara`yangdiwahyukan-Nya kepada tiap-tiap orang dengan perantara Rasul-rasul agarsempurna kejadian mereka dengan ilmu dan amalnya. Oleh karena itu, tidak adayang lain selain Allah Swt., yang mengatur jalan ibadah bagi manusia, dan tidakboleh seorang pun juga mengharamkan atau menghalalkan sesuatu selain dari padaAllah Hal di atas merupakan pedoman jatuhnya sebutan pujian yangdiberikan seorang hamba kepada makhluk agar merujukkan pemberian pujiantersebut hanya kepada Allah kesimpulan di atas dapat dinyatakan bahwa tidak sah ucapanAlhamdulillāhseorang hamba bila tidak memahami arti kebahagiaan yang untukbersyukur dan menyikapi arti penderitaan yang untuk bersabar sebab, ia belummengenal makna kebesaran Allah Swt. Seorang hamba dapat sah dalammengucapkanalhamdulillāhi-rabbil-’ālamīnbila ia telah menempatkan dirnyahanya bersama Allah Swt., sehingga ia akan mampu bersyukur dan tidak sombongatas kebahagiaan dunia yang diberikan-Nya dan mampu bersabar dan tidakberputus asa atas penderitaan dunia yang singgah dalam kajian di atas penulis menambahkan bahwaalhamdulillāhadalah kajian terdalam setelahbismillāh..Alhamdulillahmerupakan sebuahpernyataan dari Allah Swt., yang menganjurkan kita untuk senantiasa hanyamemuji adalah Sosok yang tertinggi dan memiliki tempat untukdipuji oleh seorang hamba. Pujian seorang hamba yang dilakukan kepada siapapun,apapun dan kondisi bagaimanapun adalah pujian yang tidak terlepas dari karenamemuji Allah Swt. Keutamaan dalam memuji-Nya adalah menempatkan seoranghamba untuk siap menerima apapun model pemberian yang diberikan oleh AllahSwt., kepadanya, baik kekayaan atau kemiskinan, kecantikan atau kejelekan rupadan badan yang tinggi atau pendek. Bagi seorang hamba tetap akan menerima29Lihat, Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh Pentahqiq/Peneliti,O Tafsir Ibn…,h. H. A. Halim Hasan Daulay dkk,Tafsir Alquran...,h. 44. 90 Hakekat Tafsir Surat Al-Fatihah..... – Safria AndyJurnal At-Tibyan Volume 4 No. 1, Juni 2019dengan legowo atas segala pemberian Allah Swt., karena seorang hamba, hanyamewujudkan pemujian atas pujian telah dijadikan oleh seorang hamba sebagai barometerpenerimaannya atas pemberian Allah Swt., maka ia akan menyikapi segalapemberian yang berupa bentuk indah secara lahiriah dengan selalu bersyukurkepada-Nya. Rasa syukur tersebut akan melahirkan jiwa yang tidak sombongkepada Allah Swt dan kepada makhluk-makhluk lainnya. Dengan pujian-pujianyang dikedepankan seorang hamba kepada-Nya dalam setiap menerima pemberian-Nya yang berupa sesuatu yang tidak indah secara lahiriah akan disikapi denganrasa bersabar. Rasa sabar tersebut akan melahirkan jiwa seorang hamba yang tidakberputus-asa. Seorang hamba yang mampu mengendalikan atau memulangkansegala pemberian berupa sesuatu yang indah dan tidak indah tersebut kepada AllahSwt., dan hamba akan memperoleh kenikmatan yang nyata dalam kehidupan didunia dan di akhiratnya. Pernyataan di atas penulis sebut dengan istilah “jalankepastian menuju kenikmatan dalam kehidupan dan wujud dari bentuk kebenarandi dunia dari Sang Penguasa Allah Swt dan yang Maharahmān”. Suatu jalan yangpasti dan yang mampu membuat seorang hamba untuk mampu dalammengendalikan diri di saat bahagia untuk tahu bersyukur dan tidak sombong danjalan yang mampu membuat seorang hamba untuk bersabar di saat derita dan tidakberputus-asa, karena yang dituhankannya dan diagungkan olehnya hanya AllahSwt., dan tidak ada yang lain bersama seorang hamba kecuali kepastian menuju kenikmatan tersebut terinspirasi dari dua Socrates dalam mencari kebahagiaan secara universal, sepertilarangan bagi orang yang berbuat jahat di mata agama dan telah menghadangkebebasannya untuk berbuat jahat dan dia tidak dalam sebuah hadis yang kesimpulannya, tidak akan diterima rasaucapan syukur seorang hamba sebagai wujud rasa kebahagiaan seorang hambaatas pemberian Allah kepada Allah Swt bila tidak diawalinya di dalam rasasyukur tersebut dengan memuji Allah di atas menjelaskan dua sifat Agung Allah Swt., yaitu,al-Rahmānyang berupa sifat Allah Swt., yang memberikan sesuatu kepada setiaphamba dan makhluk-Nya danal-Rahīmyang berupa sifat kasih sayang Allah Swt.,yang hanya diberikan-Nya kepada orang yang mengakui akan kebesaran al-Rahīmjuga merupakan pernyataan seoranghamba akan bukti kasih sayang Allah Swt., yang murah memberikan sesuatukepada setiap makhluk-Nya tanpa membedakan mereka dan mengasihi hamba-hamba-Nya yang memahami wujud ketuhanan Allah Swt. Hanya orang-orang yangtidak paham tentang wujud kasihsayang Allah Swt., yang akan memiliki Hakekat Tafsir Surat Al-Fatihah... – Safria Andy 91Jurnal At-Tibyan Volume 4 No. 1, Juni 2019kegelisahan di dalam hidupnya dengan penuh penderitaan baik di kala memilikifasilitas dunia ataupun tertinggi bagi segenap makhluk adalah nafas ataukehidupan yang diberikan-Nya. Dengan kehidupan tersebut akan menjadi berhargasegala fasilitas yang diberikan-Nya. Itupun bila digunakan dengan tetap merujukkepada nilai tasawuf ayat pertama dan kedua dari surat tidak berharga bila segala fasilitas yang diberikan-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya tidak dikaitkan denganrahīmullah, yaitu Sayang-Nya Allah Swt.,kepada makhluk-makhluk-Nya yang menyadari atas pemberian-NyaRahmānullah dan berkembang kepadarahīmullah. Bukankah semua yang adamemiliki keterikatan dan berjalan secara sistematis seperti keberadaan akibatkarena keberadaan sebab atau bahasa lainnya ada sebab pasti ada terwujud semua hal di atas Allah Swt., telah memberikan perhatian-Nyadengan penciptaan dan Pemeliharaan atau yang dikenal dengan tarbiyyah, yaitusebuah kata yang menjelaskan terlestarikankedudukan Penciptaan dan Pemeliharaan maka diperlukan pendidikan dari AllahSwt. Untuk mensukseskan hakikat pendidikan tersebut maka diadakan ganjaranbagi makhluk khususnya para hamba Allah Jauhary telah menyebutkan, bahwa, tarbiyah pendidikanberkehendak pada dua pekerjaan, yakni rahmat dan tidakdidapati keduanya bersama-sama, itulah yang dinamakan tarbiyah telah menjadikan ibu-ibu lebih banyak hampir pada sifat rahmat,sedang bapak-bapak lebih dekat kepada kekerasan atau tepatnya ketegasan. Dariitu, manakala salah seorang diantara keduanya dalam keadaan lupa, maka alamatakanterjadi kerusakanakan tarbiyah anak-anak. Oleh karena, itu, Allah Ta’alamengisyaratkan dengan firman-Nya “Ia mendidik dan memelihara Alam inidengan sifat ar-Rahman dan ar-Rahim.”31Muhammad Abduh mengatakan dalam Tafsir al-Mannarnya, “SungguhpunAllah sudah mengadakan berbagai-bagai hukuman di dalam dunia danmenyediakan berbagai-bagai azab di akhirat untuk orang yang melewati batas-batas-Nya dan orang yang melanggar larangan-larangan-Nya, sekalian itu tidakada menafikan keumuman rahmat Tuhan bagi seluruh hukuman itu pada lahirnya sebagai pembalasan, tetapi pada terletaknya tarbiyah yang diberikan Tuhan pada manusia,sebagaimana tarbiyah telah melarang orang agar jangan terjerumus kepadapekerjaan-pekerjaan yang melanggar batas-batas yang sudah ditentukan Syari’ berpaling dari pada Syari’at itu membawa pada kecelakaan danbala yang saat seseorang berdiri tetap dalam batas Syari’at itu,perbuatannya itu pulalah membawanya pada kebahagiaan dan 92 Hakekat Tafsir Surat Al-Fatihah..... – Safria AndyJurnal At-Tibyan Volume 4 No. 1, Juni 2019Sifatal-Rahmāndanal-RahīmAllah Swt., yang telah mengejewantahdalam tubuh hamba-Nya dan telah mampu membuat hamba-Nya agar kuat dalammenghadapi kenyataan. Seorang hamba yang melihat teman lainnya dalamkeadaan berbuat salah dan menegurnya serta tidak memperdulikan bahwatemannya tidak mau ditegur atas kesalahan yang dilakukannya adalah bagian darikasihsayang Allah tersebut. Teguran yang dilakukan seorang teman tadimerupakan pemberian yang ia berikan kepada siapapun, yaitu memberikan halyang baik kepada orang yang baik maupun kepada orang yang lagi berbuat tidakbaik. Sesungguhnya sifat tersebut adalah sifat yang berpandangan luas, sehingga iaberharap dengan pemberiannya berupa nasehat mampu menciptakan kasih sayangyang berupa kesadaran bagi orang yang berbuat salah. Perubahan pada seseorangteman tersebut kepada hal yang baik telah menempatkan diri sipenegur sebagaimanusia yang terbaik, yaitu manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya tanpamengenal siapapun manusia yang akan ditegur untuk diperbaikinyaAr-rahman ar-Rahim merupakan dua nomina yang berasal dari kata Ar-Rahmah dan ditujukan untuk menunjukkan makna “sangat”.Ar-Rahmah lebihtegas dari pada merupakan nomina iniberbeda dengan orang yang memandangnya dan menduganya sebagai nomina tidakberrefleksi. Alasan bagi pandangan ini ialah keterangan yang dimunculkan olehTirmidzi dan disahihkannya, dari Abdurrahman bin Auf ra., bahwa dia mendengarRasulullah saw., bersabda,“Allah Ta’ala berfirman, Aku adalah ar-Rahman. Akutelah menciptakan rahim kandungan dan Aku ambil dari Nama-Ku menjadinamanya. Barangsiapa yang menyambungkannya, maka Akupunmenyambungkannya. Dan barangsiapa yang memutuskannya, maka Aku pun akanmemutuskannya.”HR. Tirmidzi.33Al-Rahmahmerupakan gabungan darial-Rahmāndanal-RahīmAllah Swt.,artinya dua nama agung Allah tersebut tidak dapat terpisahkan dan memilikisistematika kajian yang harus diterapkan pada diri seorang makhluk khususnyahamba Allah Swt. Kasih dan sayang Allah Swt tersebut merupakan alat utamabagi seorang hamba di dalam memahami Cinta-Nya dan berupaya untuk dimilikioleh setiap hamba-Nya. Hal ini merupakan kata kunci utama tujuan para sufi danpecinta Allah dalam memperoleh Cinta-Nya. Dengan keberadaanal-Rahmāndanal-RahīmAllah Swt., maka seorang hamba akan tersugesti dalam menjalani segalaaktivitas kehidupannya dengan kebahagiaan sempurna. Meskipun kesempurnaanitu hanya milik Allah, namun telah dirasakan oleh para hamba-Nya akankesempurnaan tersebut. Bahasa lainnya berbuyi “ada dan tiadanya fasilitas duniaitu tetap akan selalu ada kebahagiaan bagiku dengan kasih sayang-Mu wahai AllahSwt yang datang berupa bahtera Cinta-Mu dan adanya fasilitas dunia padaku,semua tidak ada artinya bila tanpa kasih sayang-Mu yang berwujud berupa Cinta-33Muhammad Nasib ar-Rifa’i,Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir,JakartaGema Insani, 1999, h. 59-60. Hakekat Tafsir Surat Al-Fatihah... – Safria Andy 93Jurnal At-Tibyan Volume 4 No. 1, Juni 2019Mu kepadaku”. Perasaaan di atas merupakan nilai tasawuf yang senantiasadinanti-nantikan oleh para pecinta Allah karena itu, nilai tasawuf dari ayat di atas berupa penegasan dari AllahSwt bagi para hamba untuk selalu ingat bahwa memberadakan kasih sayang-Nyamampu menjadikan semua fasilitas dunia terlihat hal yang biasa, sehingga mampudilewati dengan kemudahan dan mendorongnya untuk memperoleh yang lebihbesar yaitu Cinta Allah Swt. Kajian tersebut akan menjelaskan bahwa Allah Swt.,yang memiliki langit dan bumi beserta isinya dan kelayakan-Nya dalammenempati diri-Nya sebagai Raja di hati orang-orang yang mencari ketidakkacauan atau kerajaan pada hari pembalasan tersebut tidak menafikankekuasaan Allah atas kerajaan yang lainnya dunia, karena telah disampaikansebelumnya bahwa Dia adalah Rabb semesta itu bersifatumum di dunia maupun di akhirat. Adanya tambahan kalimat yang artinya haripembalasan, karena pada hari itu tidak ada seorang pun yang dapat mengaku-ngaku akan sesuatu dan tidak juga dapat berbicara kecuali dengan firman Allah dalam surat an-Naba`38 yang artinya “pada hari ituketika ruh dan para Malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-katakecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Rabb yang Mahapemurah, dania mengucapkan kata yang benar.” Hari pembalasan berarti hari perhitungan bagisemua makhluk, disebut juga hari diberi balasan sesuai amalnya baik, maka balasannya pun amalnya buruk, makabalasannya pun buruk kecuali bagi orang yang kontekstual ayat tersebut dapat dipahami sebagai keterangansempurna dari ayat sebelumnya, yaitu menerangkan bahwa dengan kasihsayangAllah Swt., yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya dan dipahami dengansebaik-baiknya mampu menyikapi rasa bahagia dengan bersyukur dan rasa deritadengan bersabar, telah membuktikan bahwa Allah Swt., adalah Raja di haripembalasan. Dalam bahasa pecinta Allah Swt.,yaitu memahamiMālikiyaumid-dīnadalah Raja yang memberikan ganjaran kepada para hamba khususnya danmakhluk-Nya pada umumnya yang telah menyikapi rasa kasihsayang-Nya secarapositif atau negative. Bagi orang yang memperoleh Cinta Allah Swt., akanmenyadari dengan sejati bahwa Allah Swt., yang telah memiliki wewenang dalampemutusan akan setiap perbuatan yang dilakukan hamba selama di dunia, sehinggamemberikan rasa yang besar untuk memperoleh rahmat-Nya. Tidak akan adasatupun yang mampu memiliki rasa tersebut dan mampu memberikan kenyamananakan rasa tersebut kepada siapapun kecuali Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh Pentahqiq/Peneliti,Tafsir Ibn…,h. 27 94 Hakekat Tafsir Surat Al-Fatihah..... – Safria AndyJurnal At-Tibyan Volume 4 No. 1, Juni 2019Keberhasilan Allah Swt., yang telah terlihat pada diri seorang hamba didalam ayat di atas, yaitu, keberhasilan-Nya dari sisi sebagai Pemilik maupunsebagai Raja. Dapat dipastikan bahwa Allah Ta’ala yang memiliki sekalianmakhluk dan akan membalas mereka baik di dunia maupun di akhirat denganpahala kepada orang yang taat dan rajin beramal baik. Menyiksa dan menghinakansiapa pun yang pemalas dan ini juga ditegaskan olehThanthawy dengan istilah sempurnalah tarbiyah dan peraturan alam yangdilakukan Allah hal yang dihadirkan tasawuf berupa nilai yan terdapat dalam surat al-Fatihah,pertama, bahwa Allah Swt adalah pencipta, pemilik dan pemelihara akanalam semesta beserta isinya, sehingga pernyataan tersebut telah memberikankesadaran seorang hamba agar ia menjalani segala aktivitas kehidupannya di duniadan menuntaskannya karena Allah Swt Swt adalah penentudan pemutus segala ketentuan dan keputusan yang dilakoni oleh seoang hamba-Nya. Ketentuan dan keputusan tersebut tidak lepas dari kemaslahatan bagi hambatersebut, artinya keuntungan yang diberikan kepada hamba bilamengerjakankeputusan dan kerugian baginya bila meninggalkannya dan bukankeuntungan juga kerugian bagi Allah Swt., bila kita mengerjakan danmeninggalkan keputusan-Nya Pemahaman akan kedua hal tersebut yang telahmemberikan kesadaran kepada seorang hamba untuk melakukan segala aktivitaskehidupannya karena Allah Swt., semata dan untuk meraih cinta-Nya sertamencapai kedekatan kepada-Nya. Cinta dan kedekatan seorang hamba kepadaAllah Swt.,akan menghapuskan kenikmatan yang sesaat dari kebahagiaan dansiksa dari penderitaan lahiriyah. Ayat tersebut akan memicu seorang hamba untukmemasuki diri kepada pernyataan berikutnya dari firman Allah Swt., yaituIyyākana’budu wa iyyāka nasta’īn. Ayat tersebut akan mengantarkan seorang hambakepada deklarasi sejati atau wujud kepasrahan diri dan ketergantungan abadikepada Allah yang wa iyyāka-nasta’īnAyat di atas merupakan inti dari kata hati seorang pecinta sejati atauseorang hamba yang ingin mendapatkan cinta Allah Swt. Ayat yang telahmembangun kehidupan yang sesungguhnya bagi seorang hamba dalam mengarungibahtera kehidupan di dunia. Penyembahan seorang hamba kepada Allah Swt., akanmenjadi pegangan utama baginya di dalam mengiringi setiap langkah dalamberaktivitas di dunia, sedangkan pertolongan Allah Swt., yang diharapkannya akanmenjadi kesadaran nyata bahwa ia bukan siapa-siapa, namun ia adalah sebagaiseorang yang perlu dipelihara dan diarahkan setiap geraknya dalam menghadapikehidupan di dunia yang banyak memiliki keterpesoanaan sementara. Duniamerupakan pancaran keagungan Allah Swt., namun dunia tidak mampu35Lihat, H. A. Halim Hasan dkk,Tafsir Alquran...,h. 47. Hakekat Tafsir Surat Al-Fatihah... – Safria Andy 95Jurnal At-Tibyan Volume 4 No. 1, Juni 2019mengarahkan bimbingan kejalan Allah Swt., kecuali atas izin-Nya, karena duniaakan menjadi senjata utama syaitan di dalam menjerumuskan seorang hambakepada kesesatan dan kedurhakaan kepada Allah seorang hamba telah berpegang kepada pegangan utamanya,yaitu hanya menghambakan diri kepada Allah Swt., maka seluruh ciptaan duniadan alam semesta beserta isinya yang merupakan pancaran dari keagungan AllahSwt., yang akan diperintahkan-Nya untuk mengiringi langkah seorang hamba yangberpegang pada pegangan utama tersebut dan keselamatan yang akan hadir dalamkehidupan di dunia. Keselamatan yang diperolehnya merupakan wujudpertolongan Allah Swt., dari permohonan yang sebagian salaf bahwa al-Fatihah adalah rahasia Alquran, danrahasianya terletak pada kalimatiyyāka na’budu wa iyyāka nasta’ tersebuttelah menuntun kepada pelepasan diri seorang hamba terhadap kesyirikan danberserah diri kepada Allah objek yang didahulukan untukobjek pembatasan, supaya tujuan pembicaraan yang terpokus kepada apa yanghendak diutarakan, yaitu “hanya kepada Engkau ya Allah” kami menyembah yangmaksudnya seorang hamba tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah Swt., dantidak berserah diri seorang hamba hanya kepada-Nya. Hal tersebut merupakanbagian dari kesempurnaan dari ketaatan seorang hamba kepada Allah Swt. Secarabahasa, ibadah berarti istilah ibadah adalah suatu hal yangmenyatukan kesempurnaan kecintaan, ketundukan, dan ketakutan. Sebagian ulamasalaf mengatakan bahwa al-Fatihah merupakan rahasia Alquran yang terletak padaayat “iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn”penggalan kalimat pertama yaituiyyaaka na’budumerupakan bagian dari penyucian dari kemusyrikan. Dan yangkedua, yaituiyyāka nasta’īnmerupakan upaya penyucian dari upaya, usaha, dankekuatan yang menyerahkan segalanya kepada Allah yang Mahamulia kalimat dari ayat tersebut telah meberikan keteguhan kepada seoranghamba untuk dapat konsisten dalam berbuat dan konsenstrasi dalam menghadapisegala bentuk kehidupan tanpa ada gangguan dan seoranghamba dalam menyikapi segala godaan dan gangguan di muka bumi dengankonsentrasi dan konsistensi yang tinggi telah dapat menempatkan dirinya sebagaiseorang yang berhasil dalam menyembah Allah yang Mahasuci. Segala perbuatanyang dilakukan selalu diawali dengan permohonan bimbingan dengan bahasabergantung hanya kepada Allah Swt., dan dilakukan dengan bahasa penyerahandiri secara maksimal hanya kepada Allah Swt., dan tidak kepada pernyataan Ibn Qayyim al-Jauziyyah37, di dalam menafsirkaniyyāka-na`budusesungguhnya tidakakan menyembah seorang hamba pada36Muhammad Nasib ar-Rifa’i,Ringkasan Tafsir...,h. 62. Lihat juga, Abdullah bin Muhammadbin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh Pentahqiq/Peneliti,Tafsir Ibn...,h. 2937Lihat, ibn Qayyim Al-Jauziyyah,Tahdzibu Madariju as-Salikin,Hadzbahu; Abd al-Mun`imShalih al-`Ali a-`Izzy, jld. I, Beirut Libanaon; Muassastu ar-Risalah, 2000, h. 30 96 Hakekat Tafsir Surat Al-Fatihah..... – Safria AndyJurnal At-Tibyan Volume 4 No. 1, Juni 2019Tuhannya Pemelihara semesta alam yang Mahatinggi kecuali sesembahan yangdilakukan dalam beribadah dengan kecintaan kepada Allah Swt., dan keridhaan-Nya. Dalam beribadah kepada-Nya adalah ibadah seorang hamba yangmelakukannya dengan rasa syukur, cinta dan takut kepada-Nya dengan naluriah,diterima oleh akal yang tetapi metode yang dilakukan dalamberibadah atau menyembah kepada Allah Swt., adalah tidak ada sesembahanapapun kecuali ada jalan untuk mengetahui-Nya kecualidengan jalan yang disampaikan oleh Rasul-Nya dan penjelasan-penjelasan tentangsemua di atas syukur, cinta dan takut kepada Allah.Ibadah merupakan kedudukan yang sangat agung, yang dengannya seoranghamba menjadi mulia, karena kecondongannya kepada Allah Ta’ala saja, dan Diatelah menyebutkan Rasul-Nya Saw., sebagai hamba-Nya yang menempatikedudukan yang paling Ibadah menurut hemat penulis adalah bukti darikecintaan seorang hamba kepada Allah Swt, sehingga ia akan melakukan segalabentuk ibadah hanya karena-Nya dan menghasilkan nilai yang berkualitas dalamkehidupannya. Ibadah dalam harapan bertasawuf merupakan keutuhan perbuatanseorang hamba yang ingin menggapai cinta Allah Swt., sehingga tidak akan adakeraguan dan hasil yang tidak berkualitas yang dilahirkan, sebab ibadah yangdikerjakan sebagai bukti cinta seorang hamba kepada Allah yang Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan keutamaan-keutamaan ayat yangberbunyiiyyāka-na`budu wa iyyāka-nasta`īnadalah sebagai obat bagi dua penyakityang berbahaya bagi seorang hamba, yaitu penyakit ria dan penyakit ria disembuhkan dengan kalimatiyyāka-na`bududan penyakit sombongdisembuhkan dengan kalimatiyyāka-nasta` adalah penuhan diri seorang hamba terhadap dirinya bukan kepadaAllah Swt. Meskipun secara lahiriah ia menyembah Allah Swt., namun hakikatnyaia hanya menyembah dirinya saja. Dengan pengukuhan keberadaan Allah Swt., dihati seorang hamba akan mensucikan dirinya dari penuhan-penuhan seoranghamba kepada selain Allah Swt. Setiap perbuatan seorang hamba akan terlaksanakarena Allah Swt., bukan karena diri hamba tersebut. Adapun sombong adalahperasaan seorang hamba dalam menyatakan dirinya sebagai penolong bagi oranglain dan hanya pada dirinya orang-orang akan memohon pertolongan. Seoranghamba yang merasa tersebut telah lupa bahwa ia mampu memberikan pertolongankarena diizinkan Allah Swt., atau ditolong-Nya. Dengan pengukuhan pertolonganAllah Swt., senantiasa menyertai rasa pertolongan seorang hamba kepada oranglain dan akan mensucikan rasa sombong yang ada pada Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh Pentahqiq/Peneliti,Tafsir Ibn…,h. 31 Hakekat Tafsir Surat Al-Fatihah... – Safria Andy 97Jurnal At-Tibyan Volume 4 No. 1, Juni 2019Ihdinaṣṣirātol mustaqīmSetelah memperoleh petunjuk bahwa hanya kepada Allah Swt., seoranghamba dalam menyembah dan hanya kepada Allah Swt., dan memohonpertolongan, telah menjadi harapan untuk senantiasa diberikan petunjuk yanghakiki, karena tidak ada tempat untuk meminta petunjuk selain kepada dan makna hidayah dalam ayat di atas adalah pengertian bimbingandan petunjuk. Sebagaimana firman Allah Swt., di dalam surat al-Syura` ayat 52yang artinya”Dan sesungguhnya engkau Rasulullah Saw., benar-benar memberipetunjuk kepada jalan yang lurus.” Seorang hamba senantiasa membutuhkanAllah Swt., dalam setiap saat dan setiap situasi agar diberikan keteguhan,kemantapan, penambahan, dan kelangsungan hidayah, karena ia tidak kuasamemberikan manfaat atau mudharat kepada dirinya sendiri kecuali dari AllahSwt., yang menghendaki. Oleh karena itu, Allah Swt., selalu membimbingnyaagar ia senantiasa memohon kepada-Nya setiap saat dan supaya Dia memberikanpertolongan, keteguhan, dan taufik. Orang yang berbahagia adalah seorang hambayang diberi taufik oleh Allah Swt., untuk senantiasa hanya memohon kepada-Nya,sebab Ia telah menjamin akan mengabulkan permohonan seorang hamba jika iamemohon kepada Allah Swt., apalagi permohonan orang yang dalam keadaanterdesak dan sangat membutuhkan bantuan-Nya pada tengah malam dan menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah adalah penjelasan, tuntunan,pembenaran dan ada jalan menuju penjelasan dan tuntunan AllahSwt., kecuali melalui arahan Rasul-Nya. Oleh karena itu,kemuncuan penjelasan,tuntunan dan pengenalan yang sistematis akan diri Allah Swt., akan mengarahkepada petunjuk dan pembenaran-Nya dan menjadikan keyakinan di hati danmelahirkan cinta mendalam seorang hamba kepada-Nya serta Ia mengisi hatiseorang hamba dan menjadikan Allah Swt.,selalu ada di hati orang yang teridhoidan selalu berada dalam di atas merupakan ayat yang dinilai sebagai permohonan utama bagiseorang hamba agar ibadah yang dilakukan senantiasa setia mendampinginya yangtidak berkurang dan tidak surut setelah pegangan utama yang dimiliki seoranghamba penghambaan diri hanya kepada Allah Swt semata. Harapan tersebutmerupakan penghapusan kekhawatiran seorang hamba, yaitu khawatir akanperpisahan dirinya dari Allah ghairil-maghdhữbi-alaihim walādh-dhāllīnAyat tersebut adalah inti dari permohonan yang diminta oleh seoranghamba yang mengandung dua arah untuk39Lihat,Ibid.,h. 3340Lihat, ibn Qayyim Al-Jauziyyah,Tahdzibu Madariju as-Salikin,Hadzbahu; Abd al-Mun`imShalih al-`Ali a-`Izzy, jld. I, Beirut Libanaon; Muassastu ar-Risalah, 2000, h. 31 98 Hakekat Tafsir Surat Al-Fatihah..... – Safria AndyJurnal At-Tibyan Volume 4 No. 1, Juni 2019ditunjukkan kepada jalan seperti orang-orang yang dianugerahkan oleh Allah Swt.,akan sebuah nikmat, seperti Nabi Ayyub As., yang mampu menahan diri darisegala penderitaan berupa ujian, di antaranya penyakit yang berkepanjangan dariAllah Swt., dan kemampuan tersebut adalah bagian dari kenikmatan. Nabi YusufAs., yang mampu menahan diri dari kesombongan atas kesehatan dan ketampanandirinya untuk senantiasa selalu berterima kasih kepada Allah Swt., dan merupakankenikmatan baginya. Nabi Sulaiman As., yang mampu menahan diri darikeangkuhan sebab kekayaannya dan kemampuan tersebut bagian dari Isa As., yang mampu menahan diri dari penderitaan serba kekurangan akanhal-hal duniawi dan kemampuannya juga merupakan kenikmatan. Serta NabiMuhammad Saw., yang memiliki empat pengalaman dari Nabi-nabi di atas dankemampuannya merupakan anugerah yang paling besar dari Allah di atas adalah kenikmatan yang diharapkan oleh seorang untuk dapat dihindarkan dari orang-orang yang dimurkai olehAllah Swt., seperti Fir’aun, yang sombong dengan yangsombong dengan yang angkuh dengan miskin dan sombong setelah kekayaan yangmenguasai empat sifat buruk di Qayyim al-Jauziyyah menerangkan tentang orang-orang yang dimurkaioleh Allah Swt., adalah orang-orang Yahudi yang diberi-Nya petunjuk. Petunjukyang diterima oleh mereka tidak diterapkan dalam kehidupannya sehari-hari,sehingga menimbulkan kemurkaan dari Allah Swt. Adapun orang-orang yangdinyatakan sesat adalah orang-orang Nasrani yang menyatakan Nabi Isa As.,seorang pembawa berita dan utusan Allah Swt sebagai anak Tuhan. Pernyataantersebut telah menetapkan orang Nasrani sebagai orang-orang yang Katsir menjelaskan bahwa maksud ayat tersebut adalah permohonanseorang hamba untuk dapat jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang telahdiberikan Allah Swt., sebuah nikmat kepadanya, yaitu mereka yang memperolehhidayah, istiqamah, dan ketaatan kepada Allah Swt., dan Rasul-Nya, sertamengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Bukan jalan orang-orang yang mendapat murka, yang kehendak mereka telah rusak, sehinggameskipun mereka mengetahui kebenaran, namun menyimpang dari juga jalan orang-orang yang sesat, yaitu orang-orang yang tidakmemiliki ilmu pengetahuan, sehingga mereka berada dalam kesesatan serta tidakmendapatkan jalan menuju kebenaran. Pembicaraan di sini dipertegas dengan kata“la” bukan, guna menunjukkan bahwa di sana terdapat dua jalan yang rusak,yaitu jalan orang-orang Yahudi dan jalan orang-orang Nasrani. Juga untukmembedakan antara kedua jalan tersebut, agar setiap orang menjauhi 35-36 Hakekat Tafsir Surat Al-Fatihah... – Safria Andy 99Jurnal At-Tibyan Volume 4 No. 1, Juni 2019PenutupWujud ibadah sejati akan terlihat pada diri seorang hamba, manakala iamelakukannya dengan ketulusan, yaitu melakukan ibadah hanya karena Allah seperti itu adalah ibadah yang telah berhasil bagi seorang hamba dalammeraih kedekatan kepada Allah Swt. Kedekatannya kepada Allah Swt., akanmelahirkan kedamaian dan kebahagiaan serta kemudahan dalam menghadapiberbagai persoalan untuk dijawab dan berbagai permasalahan untuk di atas terjadi pada diri seorang hamba karenapemahaman tentangIyyaka-Na`bududanIyyaka-Nastainyang professional danpropossional. Pemahaman yang duduk professional dan penerapan pemahamanyang tepat propossional terhadap kajianIyyaka-Na`bududanIyyaka-Nastainpadadiri seorang hamba dalam menghadapi hidup, maka akan meluruskan niat dantujuannya. Kelurusan niat dan tujuan akan memperjelas bagi seorang hamba didalam melakukan setiap bentuk aktivitas kehidupannya selama di dunia, sebab ialakukan denganBismillahdan hasilnya selalu diucapkannya denganAlhamdulillah. Kedua ucapan tersebut adalah bentuk dari penuhan seorang hambahanya kepada Allah Swt., yang sebagai Sosok yang disembahnya dan Sosoktempat ia di atas telah menerangkan kepada seorang hamba bahwa kedamaiandapat terwujud bila pemahaman tentang surat al-Fatihah didudukkan secaraprofessional dan propossional. Kedamaian tersebut terwujud karena kedekatanseorang hamba kepadaAllah Swt., dan dijelaskan dengan lugas di dalam surat al-Fatihah yang menjadi istimewa dari surat lainnya dan disebut di antaranya dengansebutan“Ummul-Qur’an”, yaitu induk Alquran dan menjadi bagian dari PUSTAKAAbdul Qadir Isa, Syekh,Hakekat Tasawuf, terj. Khairul Amri, Harahap dkk, JakartaQisthi Press, 2017, cet. Ke-15Abdurrahman Hasan `Alu Syaikh, Syaikh,Fathul Majid, terj. Ibtida`in Hamzah dkk,Jakarta Pustaka Azzam, 2012Al-Jauziyyah, Ibn Qayyim,Madārij al-sālikīn fītafsīri iyyāka na`buduwaiyyākanasta`īn, jld I_____________________,Tahdzibu Madariju as-Salikin,Hadzbahu; Abd al-Mun`imShalih al-`Ali a-`Izzy, jld. I, Beirut Libanaon; Muassastu ar-Risalah,2000 100 Hakekat Tafsir Surat Al-Fatihah..... – Safria AndyJurnal At-Tibyan Volume 4 No. 1, Juni 2019_____________________,Al-Fawaid,tahqiq `Ishomuddin as-Shibabati, Al-QahirahDar- al-Hadis, 2005Andy, Safria,Hati Qalb dalam Pemikiran Tasawuf Ibn Qayyim Al-Jauziyyah,Disertasi, Medan PPs IAIN Medan-Sumatera Utara, Tasawuf dalam Surat Al-Fatihah,Jurnal Hikmah,Volume V N0 1 Jan – Des 2017, Prodi. Agama dan Filsafat Islam, dan Studi Islam UIN-SU, Rifa`i, Muhammad Nasib,Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir,JakartaGema Insani,1999____________________,Ringkasan Tafsir Ibn Katsir, Jilid. I, Gema Insani, 2012As-Suyuti,Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin,Tafsir Jalalain, Bahrun Abu Bakar, Bandung Sinar Baru Algensindo, 2010, Hasan Daulay, H. A, dkk,Tafsir Alquran Alkarim,Medan Yayasan PersatuanAmal Bakti, 1967, cet. IX,Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, `Abdullah bin,Pentahqiq/Peneliti,Tafsir Ibn Katsir,Jild. I, terj.Bogor PustakaImam Asy-Syafi’I, 2004, cet. V,Mustofa, H. A,Akhlak Tasawuf, Bandung; Pustaka Setia, 2005Nata, Abuddin,Akhlak TasawufJakarta; Rajawali Pers, 2010Uwaysi an-Nadawi, Muhammad,Tafsir Qayyim li Ibn Qayyim,Maktabah as-Syamilah. Agung SetiyawanMoh. Ainin Uril BahruddinAhmad Arifin B. SaparSurah Al-Fatikhah is very important to understand, because this surah is the main surah in the Qur’an which contains several hidden meanings that need to be understood by every Muslim. Surah Al-Fatikhah must be read in every prayer, but several people do not understand its meaning. This paper aimed to reveal the secrets of sentence phrases in the Surah Al-Fatikhah. The research data were obtained from several classical books tafsir and several journal articles discussing Surah Al-Fatikhah. The results showed that Surah Al-Fatikhah contains an implicit message which is reflected in 3 main points, namely 1 the sentence, such as deleting alif in the bismillah sentence, the use of "al" in the word Hamdu’ and Alamin’ 2 the word choice, such as the use of the word al-Rahman, al-Rahim, Rabb al-'Alamin, Malik, Yaum al-din , al-Sirat, al-Mustaqim, al-Magdub, and al-Dallin and 3 sentence structure such as a statement in the form of a sentence with the intention of the command used in the sentence al-Hamdu lillahi Rabbil Alamin, especially an objective in the expression of “Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta’in” as in the study of Balagah chapter al-Qasr in Ma'ani, and equating the word “al-Sirat al-Mustaqim” with al-Din al-Ḥaq as in the study of Balagah chapter al-Majaz in Bayan. Therefore, through this research, by understanding the meaning of the message contained in the Surah Al-Fatikhah, it would hopefully help a Muslim become more motivated in performing Qalb dalam Pemikiran Tasawuf Ibn Qayyim Al-JauziyyahSafria AndyAndy, Safria, Hati Qalb dalam Pemikiran Tasawuf Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, Disertasi, Medan PPs IAIN Medan-Sumatera Utara, Ar-RifaìNasibAr-Rifaì, Muhammad Nasib, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, JakartaGema Insani, 1999As-SuyutiAs-Suyuti,Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin, Tafsir Jalalain, terj. Bahrun Abu Bakar, Bandung Sinar Baru Algensindo, 2010, cet. Kedelapan, Halim Hasan Daulay, H. A, dkk, Tafsir Alquran Alkarim, Medan Yayasan Persatuan Amal Bakti, 1967, cet. IX, Muhammad bin 'Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh,Àbdullah bin, Pentahqiq/Peneliti, Tafsir Ibn Katsir,Jild. I, terj. Bogor Pustaka Imam Asy-Syafi'I, 2004, cet. V, Mustofa, H. A, Akhlak Tasawuf, Bandung; Pustaka Setia, 2005 Nata, Abuddin, Akhlak Tasawuf Jakarta; Rajawali Pers, 2010 Uwaysi an-Nadawi, Muhammad, Tafsir Qayyim li Ibn Qayyim, Maktabah as-Syamilah.
Surat al-Fatihah tergolong surat Makiyyah yang berjumlah tujuh ayat. Surat al-Fatihah adalah surat yang paling istimewa dari 144 surat dalam Al-Qur’an. Ulama’ tafsir menjulukinya sebagai Um al-Kitaab Induknya Al-Qur’an sebab di dalam surat al-Fatihah memuat isi atau kandungan makna yang terdapat di dalam surat-surat lainnya. Syaikh hasan al-Banna dalam risalahnya “Muqaddimah al-Tafsir” yang dikutip oleh al-Sabuni mengatakan bahwa tidak ada keraguan bahwa seseorang yang berangan-angan tentang makna surat al-Fatihah maka ia akan melihat banyaknya makna yang terkandung dan keindahan surat al-Fatihah, relasi antara ayat per-ayat dapat menggetarkan serta menerangi hatinya. Al-Fatihah dibuka dengan membaca Basmalah yang tujuannya ialah mengharapkan suatu kebaikan, Bismillah disifati dengan al-Rahmah yang telah berlimpah rahmat Allah terhadap segala sesuatu. Sehingga, ketika seorang hamba telah merasakan makna yang terkandung serta menetapkannya dalam hati maka lisannya akan mengatakan pujian pada Allah swt. Ali al-Sabuni, 1997 22. Tafsir Surat al-Fatihah Alhamdulillahi Rabbil Alamin Dalam hal ini Allah swt memberi didikan kepada hamba-Nya tentang bagaimana cara untuk memuji dan mensucikan Allah dari hal-hal yang menyerupai-Nya. Menurut Syaikh Ali al-Sabuni, maksud dari potongan ayat ini yaitu ketika seorang hamba ingin bersyukur dan ingin memuji kepada Allah maka, ucapkanlah “Alhamdulillah”. Allah adalah dzat yang maha agung, maha mulia dan maha menguasai, yang berbeda dengan mahluk. Oleh sebab itu, pujian dan syukur hanyalah kepada Allah bukan pada selain Allah Ali al-Sabuni, 1997 22 Arrahmaanirrahiim Syaikh Abdul Latif dalam “Awdah al-Tafasir” menyatakan kasih sayang Allah al-Rahman meliputi terhadap semua mahluk-Nya sementara al-Rahim hanya dikhususkan bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya. Kedua kalimat tersebut merupakan asma’ dan sifat Allah swt yaitu menetapkan sifat kasih sayang sesuai dengan keagungan-Nya. Abdul Latif, 1964 17 Maaliki Yaumiddiin Allah adalah dzat yang maha suci, yang maha merajai dan menguasai hari pembalasan dan hari di mana para manusia di hisab amalnya. Sebagaimana seorang raja yang mengatur kerajaannya. Iyyaaka Na’budu Waiyyaaka Nasta’iin Seorang hamba harus melaksanakan ibadah hanyalah kepada dan karena Allah, serta hanya kepada-Nya seorang hamba meminta pertolongan. Allah melarang seorang hamba untuk menyembah selain-Nya. Sehingga, di hadapan Allah seorang hamba harus merasa hina, rendah, tentram dan khusyu’. Al-sa’di memberikan penjelasan yang menarik dalam tafsirnya mengenai potongan ayat ini. Menurutnya, ibadah itu di dahulukan dari pada meminta pertolongan “Istianah”, hal ini termasuk bagian dari bab mendahulukan sesuatu yang umum dari pada yang khusus, serta sebagai bentuk perhatian dengan cara mendahulukan hak Allah dari pada hamba-Nya yaitu dengan lebih mendahulukan ibadah. Baru kamudian disebutkan “meminta pertolongan”. Lalu, apa itu ibadah? Ibadah adalah suatu istilah yang digunakan untuk setiap sesuatu yang Allah cintai dan Allah ridhai dari amal seorang hamba, juga mencakup perkataan-perkataan baik secara batin atau dhahir. Sementara “Istianah” atau meminta pertolongan yaitu bersandar diri kepada Allah dalam menarik atau menerima suatu kemanfaatan dan menolak kemudharatan, yang disertai dengan sikap optimis untuk mendapatkannya. Al-Sa’di, 2000 39 Beliau juga mengatakan bahwa ibadah dan meminta pertolongan kepada Allah adalah wasilah untuk menuju kebahagiaan yang abadi, selamat dari segala kejelekan, sehingga tidaklah seorang hamba selamat kecuali dengan keduanya. Sementara tujuan lain disebutkannya “Ibadah” sebelum lafal “Istianah” maka karena butuhnya seorang hamba terhadap pertolongan Allah swt untuk melakukan segala ibadahnya. Tanpa pertolongan Allah maka, seorang hamba tidak akan bisa merealisasikan perintah dan menjauhi larangan Allah swt. Ihdinash Shiraathal Mustaqiim Pada potongan ayat ini mengandung do’a yakni agar seorang hamba meminta kepada Allah petunjuk untuk menuju jalan kebenaran, agama Allah yang lurus, agar ditetapkan dalam agama Islam yang di dalamnya diutus para Nabi dan Rasul dan mengutus Nabi Muhammad saw sebagai Nabi terakhir, serta agar dijadikan sebagai orang yang berjalan di jalannya orang-orang yang dekat dengan Allah swt. Al-Sabuni, 1997 19 Shiraatal Laziina an Amta Alaihim Yaitu jalannya orang-orang yang diberikan keutamaan oleh Allah swt dari kemuliaan dan kenikmatan, baik dari Nabi-Nabi, orang-orang yang benar, para syuhada’, para orang shaleh. Ghairil Mauduu bi Alaihim Walad Dzaaalliin Dalam tafsirnya, Imam al-Maraghi menyatakan bahwa terdapat dua golongan yang tidak mendapat nikmat dari Allah swt. Golongan pertama ialah mereka yang keluar dari kebenaran setelah mengetahuinya, melenceng setelah mendapat kejelasan dan mereka yang ridha terhadap warisan dari ayah-ayah dan kakek-kakeknya yang terdahulu Yahudi dan Nasrani. Golongan kedua adalah mereka yang tidak pernah mengenal kebenaran selamanya atau mengenal namun tidak ada kejelasan, dalam artian mereka dalam kesesatan, mencampur kebenaran dan kebatilan, serta jauh dari jembatan yang dapat mengantarkannya kepada jalan yang lurus, maka, mereka adalah orang-orang yang dzalim. Al-Maraghi, 1946 24 Kesimpulan Melalui tafsir al-Fatihah di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa wujud ibadah yang sejati akan terlihat pada diri seorang hamba apabila ia melakukannya dengan tulus yakni melakukan ibadah hanya karena Allah serta menjauhi segala sesuatu yang dilarang-Nya. Ibadah yang demikian merupakan ibadah yang berhasil bagi seorang hamba untuk membangun kedekatan kepada Allah swt. Dengan mendekatkan diri kepada Allah maka, akan melahirkan kedamaian dan kebahagiaan serta kemudahan dalam menghadapi segala persoalan yang rumit. Kemudahan-kemudahan tersebut akan dirasakan oleh diri seorang hamba dengan memahami Iyyaka Na’budu dan Iyya Kanastain secara profesional dan penerapan pemahaman yang tepat proporsional terhadap makna Iyya Kana’budu dan Iyyaka Nastain pada diri seorang hamba dalam menjalani kehidupannya, sehingga akan meluruskan ni’at dan tujuannya. Dengan ni’at dan tujuan yang lurus, akan memperjelas seorang hamba untuk melakukan segala aktivitasnya selama di dunia sebab ia mengawali aktivitasnya dengan Bismillah dan hasilnya selalu diucapkan dengan Alhamdulillah. Kedua ucapan tersebut sebagai bentuk pemenuhan seorang hamba kepada Allah. Tafsir surat al-Fatihah di atas dapat dijadikan solusi bagi seorang hamba dalam segala persoalan bahwa kedamaian dapat terwujud bila pemahaman surat al-Fatihah di atas diterapkan secara profesional dan proporsional. Kedamaian tersebut dapat terwujud karena kedekatannya kepada Allah swt.
Fasal ini membicarakan berkenaan surah Al-Fatihah, keistimewaan dan kedudukkannya dalam kehidupan Umat Islam. Pembicaraan ini adalah amat penting kerana ianya meningkatkan mutu kefahaman setiap pembacanya serta menjadikan mereka lebih berupaya untuk mengaplikasikan setiap kandungan surah ini sama ada ianya tersurat mahu pun tersirat dalam menjayakan kehidupan dan membangun kerohanian mereka. Perihal ini jelas teserlah dalam nama-nama yang telah dibeikan oleh Allah swt keatas surah ini. Dari kepelbagaian nama ini tersemat rahsia-rahsia yang perlukan pengenalan dan penganalisaan yang menyeluruh untuk menemukan penjelasan dan jawapan kenapa surah ini diwajibkan keatas Umat Islam untuk membacaranya setiap hari dan malam disepanjang kehidupan mereka di Dunia ini. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free 1 FASAL SATU PENGENALAN SURAH AL-FATIHAH Pendahuluan Fasal ini membicarakan berkenaan surah Al-Fatihah, keistimewaan dan kedudukkannya dalam kehidupan Umat Islam. Pembicaraan ini adalah amat penting kerana ianya meningkatkan mutu kefahaman setiap pembacanya serta menjadikan mereka lebih berupaya untuk mengaplikasikan setiap kandungan surah ini sama ada ianya tersurat mahu pun tersirat dalam menjayakan kehidupan dan membangun kerohanian mereka. Perihal ini jelas teserlah dalam nama-nama yang telah dibeikan oleh Allah swt keatas surah ini. Dari kepelbagaian nama ini tersemat rahsia-rahsia yang perlukan pengenalan dan penganalisaan yang menyeluruh untuk menemukan penjelasan dan jawapan kenapa surah ini diwajibkan keatas Umat Islam untuk membacaranya setiap hari dan malam disepanjang kehidupan mereka di Dunia ini. Definisi Surah Al-Fatihah Perkataan Al-Fatihah dalam konteks ini adalah merupakan satu istilah yang merujuk kepada nama Surah pertama dalam Kitab Suci Al-Quran Al-Karim. Dengan kata lain, Surah ini adalah Surah pertama yang tersurat di dalam susunan Al-Quran. Ianya dinamakan Al-Fatihah kerana ianya merupakan pembuka kepada bacaan Al-Quran Al-Kariim.[1/1] Tambahan pula ianya telah pun diletakkan oleh Allah swt dipermulaan kitab suci yang diturunkan kepada Rasul utusanNya yang terakhir. Penentuan ini adalah bersifat kekal dan tidak boleh diubah suai oleh sesiapa pun. Ianya merupakan susunan terakhir yang ditinggalkan oleh Rasulallah saw sebelum beliau dipanggil kembali kepangkuan Allah swt Pencipta dan Pengutus baginda sebagai Rasulullah saw utusanNya. Dari aspek ilmu Bahasa, perkataan ini merupakan kata akar kepada kata kerja {Fataḥa} yang membawa maksud “membuka” dan “terbuka”. Ini bermakna kata akarnya ialah “buka”, sementara kata nama untuk pelakunya adalah “pembuka” dan kata yang merujuk kepada peralatannya pula ialah {Miftaḥ}.[3] Surah ini juga telah dijadikan rukun asasi dalam bacaan-bacaan Solat pengabdian diri kepada Allah swt. Ianya juga dinamakan dengan beberapa nama yang lain seperti {’Ummul Kitab, As-Sabu Al-Mathani, Al-ḥamdu, As-Syifa’, Al-Waqiaṯ, Al-Kafiyaṯ dan ’Asasul Al-Quran Al-Karim} sepertimana terdapat dalam catatan Imam Al-Bukhari.[2/1, bil. 4740] 2 Keistimewaan Surah Al-Fatihah Al-Fatihah adalah merupakan Surah yang sangat istimewa. Allah swt telah mensyari’atkan Surat Al-Fatiha untuk hamba-hamba Nya berhubung dengan-Nya dalam setiap rakaat yang didirikan. Dengan ini, sebagai seorang Islam membaca Surah ini adalah sebanyak tujuh belas kali setiap hari, siang dan malam. Bahkan lebih daripada itu, kiranya ditambah dengan solat-solat sunat yang dikerjakan. Hakikat ini berterusan dan berganda-ganda, kiranya seseorang hamba itu menikmati kegembiraan dan ketenangan untuk terus berdiri mengerjakan pelbagai jenis solat sunat yang menghubungkannya dengan Allah swt selaku penciptanya.[55] Dengan pensyari’atan ini, tidak ada sebarang do’a dan bacaan yang diterima oleh Allah swt dalam perhubungan ini selain daripada berasaskan kepada Surah ini. Persoalannya disini, apakah rahsia di sebalik Surat Al-Fatihah, apa keistimewaannya sehingga layak disyari’atkan sebagai bacaan asasi dalam solat, dan kenapa ianya menjadi satu keperluan kepada setiap pembacanya? Demikianlah sebahagian pertanyaan yang akan cuba dikongsikan bersama dalam buku kecil ini.[8] Keistimewaan Surah Al-Fatiha juga boleh dirasakan daripada kedudukannya dalam susunan Mashaf Al-Qur'an Al-Karim. Walaubagaimana pun, kedudukan ini tidaklah bererti ianya merupakan Surah yang pertama diturunkan kepada baginda Nabi Muhammad saw. Ini kerana Allah swt menurunkan ayat-ayat suci Al-Quran Al-Karim mengikut keperluan yang bersesuaian dengan perkembangan semasa yang dilalui oleh Dakwah Islamiah yang disampaikan oleh baginda nabi kita Muhamad saw. Dalam perkara ini pelbagai hikmat telah pun ditemukan oleh para alim ulama yang mengkaji berkenaan dengan sebab-musabab yang membawa kepada turunnya sesuatu ayat Al-Quran Al-Karim yang juga dikenali sebagai Asbabul Nuzul. Peristiwa Turunnya Surah Al-Fatihah Mengikut pandangan kebanyakkan Ulama’, ianya adalah Surah Makiyyah iaitu Surah yang diturun ketika mana Nabi Muhammad saw berada di Makkah dan sebelum baginda berhijrah ke Madinah. Walaubagaimana pun, Ibnu Abbas ra dan Ataa’ bin Yasaar serta ramai lagi menyatakan bahawa ianya adalah Surah Madaniyyah. Ada juga yang berpandangan bahawa ianya diturunkan pertama kali di Makkah ketikamana Solat diwajibkan, iaitu selepas diturunkan Surah Al-Muddathir. Ianya juga diturunkan sekali lagi di Madinah ketika berlakunya peristiwa datangnya arahan kepada Rasul saw supaya mengalihkan Qiblat Solat dari arah Kota Baitul Maqdis di Palestin ke Baitullah Al-Haram di Makkah. Bilangan ayat yang terdapat dalam Surah ini ialah tujuh termasuk Basmalah, di iringi Hamdalah dan seterusnya Thana’. Apa yang jelasnya, tidak diulang kata nama Agong Allah selepas daripada ayat Hamdalah.[55] 3 Ada pun huraian berkenaan sebab dan musabbab yang membawa kepada turunnya Surah ini, Ibn Hajar Al-Asqallaniy menukilkan satu Athar yang diriwayatkan oleh Saidina Ali ra.Riwayat ini berkenaan satu peristiwa yang berlaku keatas baginda nabi Muhamad saw ketikamana baginda keluar bersiar-siar, baginda terdengar suara memanggil Wahai Muhammad! Baginda segera bergegas lari daripada tempat tersebut. Lantaran itu, Waraqah bin Naufal berkata kepada baginda apabila kamu mendengar panggilan itu, berhentilah sehingga kamu dengar dengan jelas apa yang suara itu mahu katakan kepada kamu. Maka tat kala suara itu datang lagi memanggil baginda Wahai Muhammad! Baginda pun menjawab {Labbaik!} yakni Ya saya disini!. kemudian suara itu berkata lagi Sebutlah! ﴿ ﴾ Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan kecuali Allah swt dan aku bersaksi bahawa Muhamad itu utusan Allah swt. Selepas itu, suara itu berkata lagi, sebutlah ﴿ ﴾ Kepujian itu adalah bagi Allah swt Pemelihara Sekelian Alam ini, Yang Maha Pengasih lagi maha Penyayang, Pemilik Hari Perhitungan ..., begitulah seterusnya hingga akhir Surah yang menjadi pembuka kitba suci Al-Quran Al-Karim. [28 bil. 1/224] . Dalam kontek ini, ada beberapa istilah ilmu Hadith yang berkaitan dengannya. Athar adalah bermaksud sesuatu riwayat yang berkaitan dengan nabi kita Muhamad saw atau pun para sahabat baginda. Ada pun Al-Khabar adalah sesuatu riwayat yang setarap dengan Hadith. Sedikit berbeza dengan Hadith, Al-Khabar adalah lebih bersifat berita, sementara Hadith lebih bersifat pengucapan baginda nabi kita Muhamad saw. Akhir sekali ialah Al-Sunnah. Istilah ini merujuk kepada riwayat-riwayat yang berkaitan dengan sifat dan perlakuan nabi kita Muhamad saw sama ada dalam bentuk perkataan, perbuatan mahu pun sikap mendiamkan diri baginda atas sesuatu perkara yang berlaku. 4 Nama-nama Khusus Surah Al-Fatihah Mungkin ada sesetengah pembaca merasakan sedikit kehairanan, bagaimana sesuatu Surah mempunya pelbagai nama? Dengan kata lain, bagaimana Surah Al-Fatihah ini mempunyai pelbagai nama? Apa pentingnya sesuatu nama itu? Bagaimana sesuatu Surah itu mempunyai lebih daripada satu nama? Secara amnya, sesuatu nama itu diberikan kepada sesuatu sebagai label yang menandainya serta membezakannya dengan sesuatu yang lain. Cara memberikan label ini mungkin berbeza dari satu budaya ke budaya yang lain, bahkan dari satu kelompok masyarakat berbanding dengan kelompok yang lain pula. Keadaan ini menjadikan kecenderungan logik akal untuk menerima sesuatu nama hanya merujuk kepada sesuatu yang tertentu dengan jelas lagi khusus. Sungguh pun begitu, adalah sesuatu yang biasa ditemukan bahawa satu nama dimiliki oleh beberapa individu atau merujuk kepada perkara yang berlainan [34&35]. Perbincangan diatas jelas membawa maksud bahawa proses memberikan nama bagi sesuatu itu dipengaruhi oleh budaya sesuatu masyarakat. Budaya itu terserlah dalam penggunaan bahasa yang mereka gunakan. Penggunaan itu sendiri memperlihatkan cara aliran pemikiran masyarakat tersebut. Bentuk nama dan sistem penamaan adalah merupakan imbasan yang jelas menerangkan hakikat kefahaman dan pemikiran masyarakat tersebut. Dalam kontek ini, adalah sesuatu yang sewajarnya diketahui umum bahawa Al-Fatihah dikenali dengan beberapa nama.[2/5, bil. 2/428] Bagaimanakah nama-nama tersebut diberikan? Kenapa nama-nama tersebut penting untuk difahami oleh setiap umat Islam? Persoalan inilah yang terdapat dalam riwayat yang menyatakan bahawa Ali bin Abu Talib ra ada melaporkan berkenaan Surah ini yang juga dikenali dengan beberapa nama yang berlainan tetapi ianya tidaklah membawa maksud yang berlawanan. Para ulama tafsir telah membuat penelitian dan analisis berkenaan dengan setiap nama tersebut dan mendapati bahawa setiap nama tersebut ada maksudnya yang tersendiri, yang tersirat disebalik nama-nama tersebut. Dalam buku kecil ini, perbincangan dan penganalisaan yang akan dibentangkan akan menjelaskan keistimewaan sistem penamaan Surah Al-Fatihah diberikan. Ianya memberikan tumpuan kepada dua aspek berikut 5 1. Dinamik Budaya dan Pemikiran Arab dalam Sistem Penamaan Penganalisaan nama-nama yang diberikan kepada Surah Al-Fatihah ini memperlihatkan sifat dinamik yang ada dalam budaya Arab. Kepelbagaian nama untuk sesuatu benda atau perkara membuktikan mereka menilai perkara tersebut daripada pelbagai perspektif. Dengan kata lain, sesuatu nama yang diberikan itu adalah merujuk kepada sesuatu fenomena, sifat, gejala dan maksud tertentu yang perlu difahami dengan jelas oleh setiap anggota masyarakat yang berada dalam budaya tersebut. Apa yang menariknya dalam konteks budaya Arab, ianya berlaku atau dijayakan secara semula jadi bersesuaian dengan sifat keanjalan yang terdapat dalam morfologi, sintaksis dan juga gaya bahasa Arab itu sendiri. 2. Sifat Keanjalan Struktur Morfologi Bahasa Arab Sifat keanjalan yang terdapat dalam sesuatu bahasa itu memungkinkan pengguna bahasa tersebut memberikan pelbagai nama untuk sesuatu perkara. Sungguh pun istilah anjal ini pada lazimnya merujuk kepada sifat ketahanan fizikal sesuatu benda, tetapi keanjalan juga memberikan makna keupayaan daya tahan dalam membentengkan diri daripada rosak dan lupus. Hakikat inilah yang terdapat pada nama-nama yang diberikan kepada Surah ini. Jelasnya, untuk memahami sesuatu nama sebagai sebuah bentuk ajaran bahasa, seseorang perlu memahami konteks penggunaan bahasa tersebut, masyarakatnya, dan budaya yang mempengaruhi kehidupan dan pemikiran mereka. Pemahaman konteks pula hanya boleh dicapai dengan memahami ekspresi bahasa pengucapan yang diucapkan oleh mereka, baik secara individu mahupun secara kolektif. Hakikat ini dapat difahami dengan mudah dalam sistem penamaan Surah Al-Fatihah seperti dalam jadual berikut 6 Jadual Hurain Nama-Nama Surah Al-Fatihah Adalah satu nama yang mengkagumkan. Bagaimana mungkin Surah ini dinamakan dengan nama ini. Adakah Al-Solat itu sama erti dengan Al-Fatihah? Dengan kata lain, Surah ini dinamakan juga dengan nama Surah Solat. Ini kerana Surah ini wajib dibaca dalam setiap solat. Huraian ini adalah bersandarkan kepada sebuah Hadith Qudsi yang dinukilkan oleh Para Perawi Hadith seperti Imam Muslim melalui riwayat Abu Hurairah ra bahawa Nabi saw bersabda yang mafhumnya[2/2, bil. 8/75] 2 “Allah swt berfirman kepadaku aku membahagikan Solat itu antaraKu dan hambaKu kepada dua bahagian. Satu bahagian untukKu, satu bahagian lagi untuk hambaKu. Bagi hambaKu apa yang dipinta. Apabilah dia berkata “Segala kepujian itu hanya bagi Allah Pemelihara Sekelian Alam”3, Aku akan berkata “HambaKu telah mensyukuri nikmat pemberianKu. Apabilah dia berkata “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”, Aku pun berkata “HambaKu telah memujiKu. Apabila dia berkata “Pemilik mutlak Hari Perhitungan”, Aku akan berkata “HambaKu telah Mengiktiraf KehebatanKu. . Hadith Qursi adalah antara jenis-jenis hadith yang diriwayatkan oleh para sahabat nabi kita Muhamad saw Muhamad saw dan dicatatkan oleh para imam hadith seperti Bukhari, Muslim dan lainnya. Terjemahan hadith Qudsi kedalam bahasa Melayu biasanya menggunakan kata kerja “berfirman” dan bukannya “bersabda”. Keadaan ini berlaku kerana dalam budaya dan ada sopan perbicaraan dalam bahasa Melayu lebih komplek berbanding dengan bahasa Arab. Orang Arab hanya menggunakan satu bentuk kata kerja sahaja untuk menerangkan peristiwa sesuatu pengungkapan ia itu “berkata”. Tetapi, dalam bahasa Melayu, pelbagai jenis kata kerja yang perlu disesuaikan dengan siapa penuturnya dan dimana ianya dituturkan. Contohnya, “berfirman” merujuk kepada Allah swt selaku Pencipta Sekelian Alam, “bersabda” merujuk kepada baginda Rasulallah saw. Sementara “bertitah” hanya digunakan sebagai merujuk kepada ungkapan rasmi sesaorang raja atau sultan yang sedang bertahta dalam sesuatu pemerintahan. . Terjemahan yang diberikan dalam kontek ayat ini ialah “Segala Kepujian itu hanyalah bagi Allah swt Pemelihara Sekelian Alam”. Terjemahan ini adalah bersifat terjemahan ilmu Bahasa -semantik, dimana penterjemah akan cuba sepenuh kemahirannya untuk tidak memberikan sebarang penambahan, pengurangan dan pengubahan atau apa yang dikenali juga sebagai pentakwilan. Contoh mudah untuk perkara ini adalah seperti kita menambah perkataan Tuhan Pemelihara Sekelian Alam boleh membawa maksud bahawa disana ada Tuhan Pemelihara dan ada pula Tuhan yang tidak menjadi Pemelihara Sekelian Alam. 7 Dan dikala dia berkata “sesungguhnya untukMu kami memperhambakan diri dan kepadaMu kami memohon pertolongan”, Aku akan berkata “Ini adalah urusan antaraKu and hambaKu. Oleh yang demikian, bagi hambaKu apa yang dia pinta. Apabilah dia berkata “tunjukkanlah kami {Sirat Al-Mustaqim}, iaitu Jalan Lurus yang Engkau telah berikannya sebagai nikmat kepada mereka yang terdahulu, bukan sebagai mereka yang Engkau murkai, dan bukan pula mereka yang sesat”. Aku pun berkata “mereka itulah hamba-hambaKu dan bagi mereka apa yang mereka minta”. Nama {Al-ḥamd} adalah sesuatu yang menkagumkan. Ini kerana ianya terletak dipermulaan Surah . Ianya menjadi nama yang membawa maksud yang sangat unik. Oleh yang demikian apakah erti sebenar bagi kata {Al-ḥamd}? Adakah cukup bagi seseorang dengan hanya membuat pengucapan {Al-ḥamdu Lillah}? Atau disana sewajarnya tersirat dan terpahat dihati sanubari penutur itu maksud yang sewajarnya? Kata nama {Al-ḥamd} dalam bahasa Arab adalah merupakan kata akar bagi perkataan {ḥamida yamdaḥu} yang bermaksud pujian dengan sebab keistimewaan yang tertentu. Ianya menjadi pelengkap kepada ucapan terima kasih. Ini kerana ucapan terima kasih diucapkan setelah menerima nikmat kebaikan yang tertentu. Sementara ucapan pujian ini lebih menyeluruh daripada ucapan terima kasih.[7, 2/499] Dari kata pujian ini, terbitlah perkataan {ḥaamid} Pemuji, {ḥamiid} Pemuji Bijak, Ahmad orang yang amat terpuji, Muhammad orang yang sangat-sangat dipuji dan juga Mahmud orang yang dipuji. 8 Nama Fatihatul Kitab ini disebut oleh baginda nabi Muhamad saw dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari [bil. 4447]. Nama ini juga tersebut dalam Hadith yang dinukilkan oleh Muslim [bil. 630]. Kata {Fataḥa} adalah merujuk kepada kata akar bagi perkataan fataḥa yaftaḥu yang membawa maksud membuang penutup sesuatu yakni menjadikan sesuatu itu terbuka. Kiranya perkara itu satu permasaalahan maka ianya adalah bermaksud penyelesai masaalah Nama ini adalah berbentuk rangkaian kata. Ianya disebut oleh baginda nabi Muhamad saw dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari [2/1, bil. 4447] dan Al-Tarmizi menukilkan dalam Hadith [2/3, bil. 3125] dimana baginda nabi kita Muhamad saw bersabda Allah swt tidak menurunkan dalam kitab Taurat mahu pun Injil sesuatu yang seumpama Umu Al-Quran Al-Karim dan ianya adalah Saba Al-Mathaniy. Kata Um adalah bermaksud ibu, sementara kitab pula adalah bermaksud buku.[3] Dalam konteks penggunaan masyarakat Arab ianya membawa maksud induk dan teras kepada Ini bererti bahawa Surah Al-Fatihah merupakan induk dan teras kepada keseluruhan kita suci Al-Quran Al-Karim. . Kamus Al-Maaniy, 2010 dibawah senarai kata {Fataha} memberikan pelbagai maksud dalam penggunaan kata ini. Anataranya seperti dalam contoh-contoh berikut 1. {Fataḥa Allah Qalbahu lil ’Amri} bermaksud Allah telah membuka hatinya untuk perkara itu. 2. {Fataḥa alaihi} bermaksud Dia telah membuka dengan erti menyediakan untuknya jalan kebaikan. 3. {Fataḥa baina Al-Khasmain} bermaksud Dia telah membukakan antara dua permusuhan itu. . Kamus Al-Ma’aniy, 2010 dibawah senarai kata {’um} memberikan pelbagai maksud dalam penggunaan kata ini. Anataranya seperti dalam contoh-contoh berikut 1. {’Umm} merupakan kata nama kepada sesuatu yang berada dihadapan. 2. {’umm al-Kitab} adalah merupakan satu istilah dalam bidan Ilmu Fiqh yang merujuk kepada Surah Al-Fatihah Sebagai surah pertama dalam quran. 3. {’umm Al-Quraa} bermaksud Kata istilah yang merujuk kepada Kota Mekkah al-Mukarramah. 4. {’Ummahaat Al-ṣuhuf} bermaksud kata istilah yang merujuk kepada surat khabar yang masyhur di sesuatu tempat. 9 Apabila kita memahami kedudukan Surah ini sebagai teras dan induk kepada kita suci, ianya tidaklah bermaksud “ringkasan atau pun rumusan kepada Al-Quran Al-Karim itu sendiri. Istilah {’Um} juga dianggap berlawanan dengan istilah {Ab} yang bermaksud bapa dan digunapakai untuk merujuk kepada “kepala” bagi sesuatu seperti gelaran istimewa {Abul ’Anbiya} yang bermaksud “bapa kepada segala nabi-nabi Allah swt”. Gelaran ini diberikan oleh baginda nabi kita Muhamad saw kepada Nabi Allah swt Ibrahim. [2/1,, bil. 3370] Nama ini adalah kata nama berangkai. Ianya terbentuk dari perkataan {Saba} yang bermaksud tujuh. Kata {Al-Mathaniy} pula adalah dari kata akar {thiniy} yang bermaksud pujian. Sesuatu perkara itu tidak akan menjadi pujian melainkan ianya diulang-ulangkan atau dimasyurkan. [3] Pujian yang diulang-ulang ini dinamakan sebagai {Al-Mathanii}. Nama ini digunakan oleh baginda nabi Muhamad saw dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari.[2/1, bil. 4447] Nama ini juga tersebut dalam Hadith yang dinukilkan oleh Al-Tarmizi.[2/3, bil. 3125] Kedudukkan ketujuh-tujuh nama pujian dan pujaan yang diulang-ulang itu bolehlah digambarkan seperti dalam gambarajah berikut 10 Gambarajah Tujuh Puji-Pujaan dalam Surah Al-Fatihah Nama ini terbentuk dalam rangkaian kata sifat. Kata {Al-Aziim} adalah kata sifat yang menerangkan perihal kehebatan dan kebesaran Al-Quran Al-Karim. Sementara kata {Al-Quran} adalah bermaksud pembacaan seperti yang tersebut dalam Surah Al-Qiyaamaṯ.[ 18] Jika digabungkan kedua-dua makna tersebut, ini bererti, nama Al-Quran {Al-Aziim} itu bermaksud “Pembacaan yang sangat hebat”.[3] Sesungguhnya nama ini disebut oleh baginda nabi Muhamad saw dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari. [2/1,bil. 4447] Nama ini berasal dari kata akar kepada {raqiya yarqa} yang membawa maksud merawat.[3] Dalam satu peristiwa, sebilangan sahabat Rasulullah saw dalam musafir, mereka melalui satu perkampongan Arab, lantas mereka pun memohon untuk menginap. Penduduk disitu pun bertanya adakah dikalangan kamu orang yang mampu memberikan rawatan? Sesungguhnya ketua kami sedang menderita sakit. Mendengarkan perkhabaran tersebut, seorang daripada salah saorang daripada rombongan itu tadi menyahut Ya! Ada. Maka penduduk kampong itu pun membawa rombongan tersebut menemui ketua mereka yang sakit. 11 Sahabat yang mengaku pandai merawat tadi membacakan Surah Al-Fatihah keatas pesakit tersebut. Selang beberapa ketika selepas itu, pesakit itu pun sembuh daripada sakitnya. Penduduk kampung tersebut menawarkan hadiah sepuluh ekor kambing, tetapi sahabat yang merawat tersebut menolaknya dengan baik. Beliau pun berkata, saya akan memaklumkan peristiwa ini kepada baginda nabi Muhamad saw. Sebaik tiba, beliau pun berkata kepada baginda Ya Rasulallah saw! Demi Allah , saya tidak merawat pesakit itu kecuali dengan membacakan Surah Al-Fatihah. Lantas, baginda tersenyum seraya bersabda tidakkah kamu tahu Surah Al-Fatihah itu satu rawatan?[2/2, bil. 2201] Nama ini adalah merujuk kepada fungsi Surah Al-Fatihah dalam kehidupan umat Islam sebagaimana ianya berfungsi dalam solat yang didirikan. Setiap solat mesti diasaskan diatas pembacaan Surah ini. Tanpa Surah ini bererti tiada solat yang dilaksanakan. Perkataan {Al-Kafiyah} adalah kata adjektif kepada perkataan {kafaa yakfiy} yang bermaksud mencukupi. Ini bererti bahawa Surah Al-Fatihah ini cukup untuk umat Islam dalam melayari kehidupan ini sepenuhnya. Kedudukan ini tidak akan terdapat pada mana-mana Surah yang lain dalam Al-Quran Al-Karim. Diatas hakikat inilah juga bahawa Surah ini dinamakan sebagai Al-Kafiyah. 12 Nama ini merupakan kata adjektif pasif kepada perkataan {naaja yunaaji} yang membawa maksud “menyatakan atau mendedahkan sesuatu rahsia kepada seseorang yang lain”. Dengan ini, maksud nama {Al-Munaaja} ialah rahsia yang didedahkan kepada Allah swt. Dengan kata lain, ianya diertikan sebagai ungkapan-ungkapan yang diajukan kepada Allah swt bagi menyerlahkan rahsia hati yang tersembunyi dan juga yang nyata.[3] 13 Kelebihan Surah Al-Fatihah Daripada perbicangan diatas, jelaslah Surah Al-Fatihah adalah sebuah Surah yang amat istimewa. Walau bagaimana pun, ianya tidak akan memberikan nilai tersebut kiranya pembacaan yang dilakukan tidak memangkinkan ciri tersebut. Dengan kata lain, sesuatu yang hebat dan unik perlukan disiplin atau adab dan tatacara yang membolehkan sesuatu yang dibaca itu berfungsi dengan sempurna. Diatas hakikat inilah, kenapa pembacaan Surah Al-Fatihah perlu dimulakan dengan membaca {Al-’Istiazah}. Dengan kata lain, sesuatu pembacaan perlukan persediaan infra yang sempurna terutamanya membaca Al-Quran Al-Karim secara umumnya dan Al-Fatihah khasnya. Saranan ini juga bertepatan dengan firman Allah swt yang mafhumnya “apabila kamu membaca Al-Quran Al-Karim maka hendaklah kamu memohon perlindungan dengan Allah swt daripada rejaman Shaitan ”.[ 98] Aspek kedudukan pembacaan Al-Fatihah sebagai satu rukun dalam solat sudah cukup kuat untuk setiap umat Islam menyedari status keutamaan yang perlu diberikan kepada Surah ini. Ianya sebagai sesuatu yang wajib dibaca dalam setiap Raka’at Solat yang didirikan adalah merupakan satu keistimewaan yang sangat tinggi yang tidak wajar dipandang sipi oleh sesiapa jua yang melakukannya. Hakikat ini diperkukuhkan pula oleh sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh ramai perawi-perawi Hadith.[2/1, bil. 756] Hadith-hadith tersebut menerangkan bahawa tidak ada sebarang Solat tanpa membaca Surah Al-Fatihah. Ini bererti, Allah swt mewajibkan keatas setiap orang Muslim supaya membaca Surah ini didalam setiap solat. Sebagai umat Islam, kita diwajib mengulangi Surah ini sebanyak 17 kali sehari. Bilangan sebanyak ini menandakan betapa besarnya pengertian yang terkandung dan tersirat di dalam Surah ini. Dengan menyedari hakikat ini, keutamaan perlu diberikan sepenuhnya kepada setiap persoalan yang tersurat mahu pun yang tersirat dalam Surah ini. 14 Kewajipan membaca Surah ini di baca di dalam Solat pastinya berasaskan kepentingan, keutamaan dan hikmah yang tersembunyi di dalam setiap kata dan ungkapan yang membentuk Surah Al-Fatihah ini. Kegagalan memahami hakikat ini pastinya membawa kepada kegagalan yang amat besar. Seseorang yang membaca Surah ini tetapi dengan kefahaman yang kosong pastinya tidak memberikan sebarang kesan dan faedah kepada dirinya di Dunia mahu pun di Akhirat. Seterusnya, apalah ertinya seseorang melakukan Solat tanpa memahami sedikit pun maksud daripada setiap gerak laku dan bacaan solatnya? Sikap seperti ini adalah satu sikap yang pincang. Sebagai manusia terpelajar, seseorang perlu bersikap waras dalam setiap tindak tanduknya. Sesuatu pembacaan yang dilakukan sewajarnya menjadi pemankin kepada pembangunan modal insan yang ada dalam dirinya. Dalam kontek ini, Surah Al-Fatihah adalah merupakan sesuatu yang sangat penting untuk pembentukan personaliti diri seorang Muslim yang sempurna. Bahkan kesan Surah Al-Fatihah dalam pembentukan peribadi Muslim adalah sangat mendasar, asasi dan tidak mungkin dipertikaikan. Ini adalah disebabkan peranan Surah ini sebagai sebuah teks yang meliputi pelbagai nilai dan aspek yang menyeluruh dalam memahami erti kehdupan manusia didunia dan juga di Akhirat nanti. Hakikat ini juga boleh difahami daripada sabda baginda nabi Muhamad saw yang mafhumnya “Demi Allah swt yang jiwaku dalam genggamanNya, sesungguhnya tidak diturunkan sepertinya yakni Surah Al-Fatihah sesuatu pun, sama ada dalam kitab Taurat atau dalam Injil dan juga Zabur. Bahkan dalam Al-Furqan itu sendiri sesuatu yang menyamai atau menyerupai Sab’u Mathaani dan dialah Al-Quran Al-Azim yang di berikan kepadaku”.[2/1, bil. 4474] 15 Kesimpulan Dalam fasal ini, perbincangan utama yang disajikan adalah berkenaan dengan memperkenalkan kedudukan dan keistimewaan surah Al-Fatihah dalam kehidupan Umat Islam. Apa yang paling menarik berkenaan surah ini, ianya telah diberikan pelbagai nama dan gelaran oleh Allah swt dalam kitab suci Al-Quran Al-Karim. Kepelbagaian ini pula bukanlah baru dalam dunia kebudayaan Arab semenjak daripada zaman Jahiliyyah. Ianya juga didokong oleh sifat keanjalan bahasa Arab itu sendiri. Oleh yang demikian, keistimewaan ini perlu dianalisa dengan menyeluruh oleh setiap umat Islam untuk memantapkan lagi kefahaman dan pengenalan terhadap surah ini. Seterusnya, memungkinkan untuk pemakaian atau mengaplikasikan dalam kehidupan harian Umat Islam. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this senarai kata {'um} memberikan pelbagai maksud dalam penggunaan kata iniKamus Al-Ma'aniyKamus Al-Ma'aniy, 2010 dibawah senarai kata {'um} memberikan pelbagai maksud dalam penggunaan kata ini. Anataranya seperti dalam contoh-contoh berikut
Foto via disebut Fatihah? kenapa tidak dengan nama yang lain?Diakui atau tidak, umat islam banyak yang taqlid untuk mengikuti ajaran-ajaran Islam tanpa mengetahui arti, hakikat dan makna dari surat setiap hari dibaca dan hampir tidak lepas dengan surat Al-Fatihah, untuk itu pengertian, makna dan hakikat surat Al-Fatihah menjadi penting Al-Fatihah menjadi menu sehari-hari umat Muslim dalam menjalankan ibadah. Tak hanya menu sehari-hari, Surat Al Fatihah telah menjadi nafas umat Islam di belahan itu, pengertian dan isi makna dari Surat Al Fatihah menjadi penting diketahui agar kita sebagai umat Islam bukan saja memposisikan bacaan ritual semata, tetapi juga mengetahui pengertian Surat Al Fatihah, hakikat Surat Al Fatihah dan makna dari Surat Al Juga Allah SWT Sudah Mempersiapkan Anak di Surga Bagi Pasangan yang Mandul, Benarkah?Diakui atau tidak, umat Islam banyak yang taqlid untuk mengikuti ajaran-ajaran Islam tanpa mengetahui arti, hakikat dan makna dari Surat Al Fatihah. Padahal, Surat Al Fatihah memiliki substansi, esensi dan isi kandungan yang menjadi inti daripada isi Al hadirnya tulisan surat al fatihah bahasa indonesia, diharapkan umat Muslim bisa mengerti dua hal, yaitu arti terjemahan Surat Al Fatihah secara mengetahui hakikat dan makna dari Surat Al Fatihah. Dengan begitu, ibadah kita semakin khusyuk dan sempurna apabila kita paham dan mengerti segala apa yang ada di dalam kandungan Surat Al Fatihah yang menjadi surat pembuka dalam Al dari Surat Al-FatihahSurat Al Fatihah biasa disebut dengan ejaan surah al fatihah. Kenapa disebut dengan fatihah? Kenapa tidak dengan nama yang lain?Ya, Allah SWt telah memilih Surah Al Fatihah sebagai pembukaan dalam Al Quran. Oleh karena itu, Allah Swt memberikan nama Surat Al Fatihah di mana al fatihah berarti Al Fatihah adalah surat yang diturunkan di kota Mekah yang terdiri 7 ayat. Selain dijuluki “pembuka” sebagaimana arti al fatihah, Surat Al Fatihah juga dikatakan sebagai ummul kitab yang artinya adalah induknya kitab Al demikian? Pasalnya, Allah Swt sudah memberikan klaim bahwa Surah Al Fatihah adalah induk dari segala isi yang ada dalam kitab Al Qur’ Al Fatihah juga menjadi bacaan wajib saat sholat dan biasa dibaca sebelum membaca surat-surat yang ada dalam Al Qur’ karena itu, Surat Al Fatihah dikatakan sebagai As Sab’ul Matsaany yang berarti ayat yang jumlahnya tujuh dan dibaca berulang dalam setiap arti dari Surat Al Fatihah. Selanjutnya, kita bahas mengenai hakikat dan makna surat Al Juga Bacaan Tawasul dan Tahlil LengkapHakikat dan makna dari Surat Al FatihahSurat Al Fatihah memiliki peran sentral dalam setiap pengalaman beragama umat Muslim. Tanpa memakai Surah Al Fatihah, sebuah aktivitas sholat dianggap tidak itu, dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa sholat yang tidak menggunakan Surat Al Fatihah, maka sholatnya menjadi pincang dan tidak begitu, ada semacam pemakluman bagi umat Muslim yang tidak hafal Surat Al Fatihah agar membaca surah al fatihah yang disingkat “subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahuakbar wala qaula wala kuwata ila billa hil aliyyil adzim.”Berikut ini adalah surat al fatihah bahasa indonesia untuk selanjutnya kita mengetahui arti, hakikat dan makna dari surah al al fatihah bahasa IndonesiaAlhamdulillahi rabbil alaminArtinya adalah segala puji untuk Allah sebagai Tuhan segala semesta alam. Hakikat dan makna dari ayat ini adalah kita sebagai manusia sudah seharusnya memuji Allah sebagai Tuhan bagi segala makhlum yang ada di alam semesta, baik manusia, jin, hewan, tumbuhan, planet, galaksi dan segala yang ada di semesta Alhamdulillahi rabbil alamin biasanya digunakan umat Muslim untuk bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah kepada hambanya. Ucapan Alhamdulillahi rabbil alamin sudah menjadi bagian dari tradisi dan budaya umat Islam saat mendapatkan berkah atau sesuatu yang dianggap menyenangkan arrahmanirrahim artinya maha pemurah dan maha peyayang. Arti dan tafsir arrahmanirrahim menggambarkan sifat-sifat Allah yang maha pengasih pemurah dan maha lah satu-satunya dzat yang memiliki keluasan rasa kasih kepada makhluknya tanpa batas dan punya rasa sayang kepada makhluk-Nya yang tiada makna dan hakikat surat Al Fatihah yang termaktub dalam ayat arrahmanirrahim artinya memberitahukan kita bahwa hidup ini, kesehatan ini, dan apa yang ada dalam diri kita saat ini merupakan rahmat dari kasih dan sayang Allah kepada kita. Pernahkah kita berpikir bahwa kesehatan itu mahal harganya?Kesehatan yang mahal harganya itu menjadi bagian dari rahmat, kasih dan sayang Allah kepada kita. Oleh karena itu, melalui surat Al Fatihah dalam ayat Arrahmanirrahim artinya kita harus senantiasa mengerti bahwa kasih dan sayang Allah kepada makhluknya tidak yaumiddinAyat dan kalimat maliki yaumiddin artinya yang menguasai pada Hari Pembalasan kelak. Malik berarti yang menguasai, dan yaumiddin berarti hari juga yang mengartikan Maaliki yaumiddin adalah Allah yang maha merajai hari akhir atau hari pembalasan itu hanya sekadar mampir minum dan hakikat daripada kehidupan adalah akhirat di mana hari pembalasan selalu ada untuk memberikan pembalasan terhadap apa yang dikerjakan manusia selama sebuah ayat dalam Al Quran disinggung bahwa seberat biji zarah pun setiap perbuatan baik kebaikan maupun keburukan pasti ada balasannya. Dan, di hari pembalasan kelak hanya Allah yang menguasai atau singkat, tafsir makna dan arti dari maliki yaumiddin adalah Allah yang maha kuasa di mana Allah yang akan menguasai dan merajai nanti pada hari pembalasan, yaitu hari di mana setiap perbuatan manusia mendapatkan Juga "Pak Ustadz rezeki saya seret, apa karena orangtua saya ikut dalam tanggungan saya?"Iyya kana’budu wa iyya kanasta’inArti iyya kana’budu wa iyya kanasta’in adalah hanya Allah yang kami sembah dan hanya kepada Allah lah kami meminta makna dan hakikat dari ayat iyya kana’budu wa iyya kanasta’in adalah bahwa Allah merupakan dzat yang kita sembah dan satu-satunya dzat yang bisa dijadikan sandaran untuk meminta ayat iyya kana’budu wa iyya kanasta’in, manusia seharusnya tahu dan mengerti bahwa Allah lah satu-satunya dzat yang disembah dan Allah lah satu-satunya dzat yang dijadikan sandaran atau tempat untuk meminta pertolongan. Tidak ada yang lain. Allah adalah satu-satunya dzat yang harus kita sembah dan kita minta siratal mustaqimArti dan maksud ihdinas siratal mustaqim adalah tunjukkan kami jalan yang lurus. Hal ini menjadi doa bagi kita untuk meminta kepada Allah agar kita ditunjukkan oleh Allah dengan jalan dan hidayah yang lurus, yaitu jalan dan maksud ihdinas siratal mustaqim dalam surat Al Fatihah menegaskan kepada umat Islam untuk meminta kepada Allah agar senantiasa diberikan pintu hidayah melalui jalan yang lurus, yaitu jalan yang benar menurut hidup ini senantiasa selalu ada godaan dan bujukan rayu syaitan. Oleh karena itu, melalui kalimat ihdinas siratal mustaqim maksudnya agar kita diberikan jalan yang lurus dan dan jalan yang diridhai oleh Allah. Begitulah arti, makna dan maksud ihdinas siratal an’ amta alaihim ghoiril maghdhuubi alaihim walodh dholliinArtinya adalah jalan orang-orang yang telah Allah berikan nikmat, bukan jalan yang murkai Allah dan juga bukan jalan yang makna dan hakikat dari ayat dalam surah al fatihah ini bahwa kita meminta kepada Allah agar diberikan petunjuk atau hidayah berupa jalan yang lurus melanjutkan kalimat ihdinas siratal mustaqim.Yaitu jalan yang benar-benar dirahmati oleh Allah, bukan jalan yang dimurkai atau jalan yang sesat sebagaimana orang-orang telah dimurkai dan disesatkan oleh Allah karena kelakuan dan perbuatan mereka arti, hakikat dan makna dari surat Al Fatihah yang disertai dengan artikel surat al fatihah bahasa bisa memberikan manfaat yang nyata dalam menjalankan ibadah sehari-sehari sebagai seorang Muslim yang selalu mengharapkan rahmat dan ridho Allah. islam
hakikat al fatihah dalam tubuh